Tampilkan postingan dengan label Story of Life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Story of Life. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Desember 2017

Dakwah untuk Menikah, Tapi Dakwah Bukan untuk Menikah

Wallahu’alam, sejak kapan yang namanya pengemban dakwah banyak dipalingkan dari projek utama pelaksanaan dakwah.

Perlu diketahui, projek utama dakwah Islam adalah untuk menyiapkan masyarakat saat ini menjadi masyarakat Islami. Yang dari hal inilah akhirnya nanti masyarakat akan dengan legowo menerima (bahkan sampai mengemban) fikrah (pemikiran) dan thariqoh (metode) dakwah, sehingga institusi penerap Islam secara kaffah akan bisa tertegakkan. Dan institusi itu adalah Daulah Khilafah yang dulu juga pernah dicontokan oleh Rasulullah.

Selasa, 19 Desember 2017

Ketika Sang Idola Meninggalkan Fansnya

Twitter adalah salah satu media sosial yang sangat saya sukai. Bahkan jika saya diminta untuk memberikan 3 TOP RANKS media sosial terbaik, saya akan menempatkan Twitter diurutan pertama, Instagram dinomor kedua dan dinomor tiga saya akan mengosonginya. Karena saya memang merasa tidak memiliki pilihan untuk nomor tiga.

Dari Twitter saya mendapatkan informasi dengan sangat cepat. Bahkan bisa jadi ketika orang lain (yang tidak membuka twitter) belum mengetahui suatu informasi, pengguna twitter akan dengan cepat lebih mengetahui suatu informasi tersebut.

Begitupun dengan yang terjadi kemarin. Ketika ada salah seorang penyanyi asal Korea (member SHINEE) ditemukan tewas tersebab bunuh diri. Beberapa bulan lalu saya juga mendapati informasi serupa, yakni dari Chester, sosok legenda penyanyi rock, vocalis Linkin Park, ditemukan tewas tersebab bunuh diri juga.

Minggu, 07 Agustus 2016

CALL HER/HIM AS “MANTAN” | BAHAYA PUNYA MANTAN PACAR

photo by: google

Tulisan saya sekitar satu bulan yang lalu, baru bisa post karena chrome di laptop sempet error akhirnya nggak bisa login ke blogger x.x

Zaman sekarang, sebuah zaman yang benar-benar aneh dan terkesan bahwa akhirat tidak untuk difikirkan dan dipersiapkan, yakni tidak lain adalah zaman sekulerisme. Yup, zaman atau masa di mana kehidupan dunia benar-benar tidak untuk dicampur adukkan dengan konsep agama. So, jika berurusan dengan dunia, ya dunia aja, agama tidak usah dibawa-bawa. Agama cukup ditaruh di masjid dan di rumah-rumah sendiri saja.

Salah satu imbas dari adanya sekulerisme adalah merebahnya yang namanya pacaran. Paham sekulerisme memberikan sebuah pemahaman yang bernama liberalisme atau paham kebebasan. Apapun bisa dilakukan manusia, manusia bebas melakukan apa saja, asal dia tidak mengganggu hidup orang lain.

Pacaran termasuk perilaku dalam kategori liberalisme. Karena bagi seorang muslim seharusnya pacaran tidak ada, mengingat dalam sebuah ayat yakni QS. Al-Isra’ ayat 32 Allah sudah berfirman, janganlah kalian mendekati zina karena zina itu merupakan perbuatan buruk dan menjerumuskan. Zina tidak hanya ‘maaf’ berhubungan badan layaknya suami-istri, melainkan zina ada banyak maknanya. Ada zina hati semisal mencintai seseorang yang bukan semestinya, zina mata semisal melihat sesuatu dengan penuh nafsu dan berakibat pada zina fikiran yakni memikirkan sesuatu yang diluar kebiasaan, semisal mendelusikan suatu objek, dan beberapa jenis zina lainnya.

Islam adalah agama yang sangat kompleks. Islam mengatur segala urusan manusia, baik mengenai urusan keduniawian atau urusan akhirat. Semuanya di atur dalam Islam. Termasuk dalam perkara interaksi laki-laki dan perempuan Islampun mengaturnya.

Zaman sekarang, jika ada remaja tidak pacaran akan dianggap sebagai remaja yang aneh, kuper dan terkesan jadul alias tidak gaul. Bagi mereka yang tidak pacaran bisa saja disebut oleh masyarakat sebagai sosok tidak laku atau bahkan jangan-jangan mereka mempunyai kelainan sexuality. Hmmm.

Padahal, mereka yang tidak pacaran adalah pejuang kehormatan sebagai wanita maupun laki-laki. Mereka sedang berjuang mempertahankan kesucian dirinya dari hal-hal yang tidak-tidak dan menyiapkan kesempurnaan dan keutuhan cinta bagi calon suami atau istrinya kelak.

Yang namanya pacaran, pasti ada seneng dan ada sedihnya. Kalau difikir-fikir sebenarnya lebih banyak sedihnya. Bagi saya, pacaran adalah ibarat makan mie. Mie itu sangat enak, apalagi mie ayam pakai kecap pakai sambal. Hmm yummy, siapa yang tidak mau makan mie. Mie enak benget. Bahkan sekelas member boyband S4 saja makanan kesukaannya adalah mie indomie goreng instan, lol.

Pacaran itu ibarat makan mie, saat mie masih ada atau bisa dinikmati maka rasanya enak banget dan bisa sampai bikin nagih, pengen lagi dan pengen lagi. Mungkin orang lain sudah menasihati, mie itu tidak sehat, mie itu tidak baik dan mie itu bisa bikin usus kamu buntu. Tapi apa boleh buat, jika sudah suka benget sama mie, maka semua nasihat itu hanyalah omong kosong dan ibarat angin lalu semata.

Namun, saat dikemudian hari saat mie sudah habis dan muncullah berbagai penyakit, kita akan baru tahu dan sadar bahwa mie itu enak sekejap saja, selanjutnya di masa mendatang mie itu bener-bener membawa petaka. Mie itu menyakitkan dan bahkan bisa sampai membunuh kita.

Begitupun pacaran, saat masih pacaran mungkin bisa bikin kita ngefly, bikin kita happy, bikin ngerasa bahwa hidup ini itu indah banget. Ada yang merhatiin, ada yang jadi tukang ojek, ada yang bayarin kalo makan or nonton, ada yang kasih kado kalo lagi ulang tahun, ada yang ngirimin stiker hugs pas chat di line, dan sebagainya. Indah banget.

Tapi, saat putus. DOWN, LOW, BOTTOM AND DIEEEEE. Sakitttt banget. Sedih banget, galau bengettt. Kok saya tahu? Yup karena fakta di sekitar kita memang seperti itu. Saat putus, kita bakal ngerasain sakitnya pacaran. Kita baru sadar kalo ternyata pacaran itu gak enak, kalo pacaran itu cuman bikin sakit hati bahkan sampai pengen bunuh diri dengan cara minum aseton (kalimat ini disponsori oleh awkarin). Or simplenya sampe gak bikin semangat. Semangat kuliah, sekolah, beraktifitas bahkan makanpun jadi gak semangat.

Belum lagi bahaya dari pacaran adalah masalah gagal move on. Yaa inilah pembahasan dari judul tulisan ini. Mantan. Sebuah kata yang mudah disebut, tapi kalo didenger bikin baper. Bikin sakit hati.

Jika pacaran pasti tidak terlepas dari beberapa moment special. Ntah pernah nonton film bareng, pernah dikasih lagu spesial, dikasih gift, bahkan dikasih stiker spesial di line. Kalau sudah begitu, mungkin ini hal terindah. Dan petakanya, kalau sudah putus itu bikin repot. Misal, dulu pernah dikasih lagu “I really like you”. Pas lagi di mall ada denger tuh lagi, akhirnya baper, inget mantan, sakit, sedih deh.

Atau kalau gak, lagi di kamar. Benggong. Gak sengaja lihat barang pemberian mantan, baper lagi, sedih lagi, nangis deh. Terus juga misal ada denger radio, denger nama mirip sama mantan, baper lagi keinget lagi akhirnya mau belajar gak jadi, nangis itu iya. Terus yang cowok jadi suka deh denger lagu Let Her Go. Sampai diputer berkali-kali, apalagi kalau dengernya yang versi dicover sama Jannine Weigel, hmmm malah lebih baper dan keinget mantan deh. Jadi sedih mulu kan.

Itulah, sebenernya bahaya pacaran tidak hanya sekedar masalah zina secara fisik saja. Tapi salah satu paling bahaya adalah keinget mantan ini. Gagal move on.

Malah yang paling bahaya misal pacaran lagi. Tapi, hati masih bilang kalo masih sayang sama mantan. Ahirnya pacaran dengan yang sekarang cuma dianggep pelarian saja. Akhirnya, pacaran Cuma bikin greget dan sakit hati si pacar aja, karena hatinya masih 95% untuk mantan. Susah dehhhh. Kasian pacarnya yang sekarang kan. Nahlooh! (kasian dua-duanya sih sebenernya, lol)

Ada lagi yang paling bahaya dan horror. Misal sudah menikah. Terus si suami ngasih gift special katakanlah tas warnanya putih merk prada. Si suami hendak ngasih surprise, jadi beliinnya diem-diem. Pas dikasih si istri nangis. Bukan nangis terharu, tapi nangis keinget mantan. Soalnya dulu mantannya pernah ngasih tas warna putih terus merknya juga prada.

Mungkin ini kayak drama, tapi ini juga bener-bener ada. Semua memang KARENA MANTAN. Mantan itu mudah disebut, tapi memori kebersamaannya gak bakal dengan mudah dihapus. Walau sudah menikah sekalipun. Itulah, kita harus berfikir sejuta kali kalau mau mengkoleksi yang namanya mantan.

Mempunyai mantan, walau Cuma satu itu bahaya. Bahaya kalo tidak bisa move on. Kalau bisa move on? Bagus sih, tapi memori kebersamaan pasti ada aja yang nggak bakal bisa dihapus. Apalagi kalo mulai mendapatkan perlakuan yang lebih buruk dari suami daripada mantan dulu. Pasti keinget lagi dengan mantan, bikin baper deh, terus sakit hati.

Bahaya banget memang yang namanya punya mantan itu. Jadi bagi kita yang sekarang gak punya mantan, mending kita mendekatkan diri kepada Allah, kita sibukkan diri dengan beribadah kepadaNya. Jangan sampai kita terjerumus ke dalam jurang jebakan mantan. Alias pacaran.

And bagi yang sekarang punya pacar, jangan romantis-romantis banget. Pillihan teraman-nya emang segera aja menikah sama dia, kalau belum siap ya dengan terpaksa harus segera putus. Mumpung belum ada memori banyak sama si doi. Nanti kalu putus repot, bisa bikin gak nafsu makan satu minggu. Kasian nasi di rumah, nanti gak habis.

Anyway bagi yang masih keinget mantan terus alias lagi fase gagal move on, tenang. Saya dulu pernah nulis tentang bagaimana tips sukses move on. Oke kalau tertarik untk membaca, bisa klik ini


Tenang, jomblo itu bukan status rendahan kok. Jadi jomblo bukan berarti kita punya kelainan sexsuality (karena ada temen saya nggak pacaran terus dibilang lesbi jadi dia pacaran dengan terpaksa, jadi dia pacaran untuk formalitas aja, padahal nggak ada rasa sama sekali dengan si pacar. Nah, kalau sudah begini ceritanya maka mindset masyarakat yang harus di rubah.) Gak usah malu jadi jomblo. Jomblo itu gak dosa kok, ngapain malu. Lagian jomblo itu justru mulia, tentu mulia di hadapan Allah, yakni tuhan kita dan tuhan semesta alam. Mau gak nih dianggep mulia sama Allah? Hehe J *think hard.

Jumat, 10 Juni 2016

ALL THESE ARE PEMBELAJARAN

kring..kring..kring.. bunyi suara dari tangan yang bersuara dan mulut yang tidak bersuara.

Aku pernah mengalami kondisi yang sangat lapar dan haus. Maklum, saat itu ba’da maghrib aku baru keluar dari kampus. Sedari pagi aku belum makan apa-apa, minum seteguk airpun belum. Waktu akan keluar kampus aku coba bertanya kepada temanku yang memang ngekost di sekitar kampus. “Kira-kira soto ayam yang enak di Jalan Ambarawa (jalan belakang kampusku) di mana, ya?”. Dan hmm, ternyata dia tidak tahu. Akhirnya sepanjang jalan ambarawa aku membelalakkan mata, sayangnya ada satu warung soto ayam yang ternyata sudah tutup. Saat itu hujan, dan banyak aroma ayam goreng yang berderetan sepanjang jalan. Biasanya aku lebih memilih makan mie ayam yang pedas, tapi aku sadar betul perutku belum terisi apa-apa selama satu hari penuh. Jadi serasa riskan jika harus dipaksakan makan mie.

Waktu itu yang bergentayangan di otakku hanyalah soto ayam, soto ayam dan soto ayam.  Sepanjang jalan pulang aku mencari-cari di mana warung soto ayam yang tempatnya nyaman. Setidaknya tidak dipenuhi oleh bapak-bapak yang lagi ngopi. Dan sekitar lima kilometer dari kampus ada soto ayam yang lumayan sepi dan tempatnya nyaman, namun karena nama warungnya agak melenceng dari Islam akhirnya aku membatalkan niatku makan di warung tersebut. Dan satu kilometer dari warung tersebut  aku mendapati warung soto ayam bernama SOTO AYAM MADURA. Tidak berfikir lama aku langsung memencet riting sepeda motorku dan menyeberang.
“Soto apa Mbak?” ucap Mas-mas pedagang soto.
“Emang adanya soto apa aja, Mas?
“Itu Mbak daftarnya, pilih  yang mana?” Dia sambil menunjuk daftar menu yang terpampang di tembok.
“Soto daging 16.000, soto jeroan 12.000, soto babat 14.000, dll banyak ada sekitar empat sampai lima soto”
“Soto daging aja, Mas” aku sambil membayangkan soto jeroan? Babat? Hah? Ndakkk banget.
“Minumnya apa Mbak?”
“Minuman botol nggak ada ya Mas? Aku sudah membayangkan segarnya Freshtee.
“Nggak ada Mbak, Cuma jeruk dan teh”
“Yaudah es jeruk Mas”

Dannnn, setelah soto tersaji aku baru sadar. Ini bukan soto ayam, melainkan soto sapi. Hiks. Udah gitu penjualnya kayak orang China. Aku jadi makannya pelan-pelan dan aku rasakan apakah bisa jadi ini soto babi? Soalnya mengingat di sebelah warung ini agak jauh ada penjual babi krengsengan. Ckck. Tapi Alhamdulillah ini soto sapi kok. Hehe.

Setelah selesai makan, bayar deh. Dan agak kaget ternyata 16.000 itu bukan termasuk nasinya, alhasil bener-bener deh makan di hari itu. Es jeruknya juga mahal banget. Mungkin dari sini banyak sekali hikmah atas kejadian sekedar beli soto. Pertama, jadi orang tuh yang fokus, otak mikirin soto ayam yaa masa kaki dan tangan menuju soto daging (sapi). Jadi orang jangan terburu-buru walau kondisi lagi genting (kelaperan). Setidaknya bersabarlah nyari tempat makan yang bener-bener harganya sesuai kantong mahasiswa. Jika disandarkan pada realitas kehidupan, pilihlah sesuatu yang bener-bener kita sudah tahu maksud dan tujuannya.

Pindah ke cerita lain. Waktu itu akhir semester satu. Aku ada tugas membuat video presentasi. Aku mikirnya yah buat video mah ya gitu-gitu aja. Akhirnya ngulur waktu sampai ke penghujung deadline baru mau ngerjakan. Pas take video, subhanAlla ternyata ngga semudah yang dibayangin. Udah gitu bener-bener lembur dan banyak yang di cut. Pas paginya mau ngedit videonya dan ternyata hasil videonya bener-bener jelek banget. Dan jadilah bikin video lagi.

Lagi-lagi semua memang pembelajaran. Salah siapa ngerjakan tugas tapi diundur-undur terus? Salah siapa ngegampangin sesuatu yang belum pernah dicoba? Salah siapa nggak ngecek hasil take video jauh-jauh waktu sebelum mau nyambung-nyambung tuh video? Ya dikembalikan lagi intinya sih salah saya sendiri. Barang kali hal konyol ini bisa dijadikan pembelajaran, ya jangan seperti itu semua dong.

Pindah ke cerita lainnya lagi, tentang pelanggaran lalin. Waktu itu aku nganter temen ke stasiun, dia mau pulkam. Kami berdua bener-bener ngga kepikiran mengenai helm. Alhasil aku ngebonceng temenku yang ngga pake helm. Pas berangkat semuanya lancar hingga pas pulangnya kami dipanggil polisi, kurang peka, lanjut jalan terus. Nggak taunya dah diikutin Pak Polisi aja. Langsung ditanyain mengenai dokumen kelengkapan kendaraan, dan “Mb sidang di Jl Dr Cipto hari Jum’at”.

Huftt, kalo boleh jujur saat itu shock banget. Pas lihat pasalnya, dendanya sampai ada yang satu juta. Satu juta? Banyak banget. Hingga akhirnya aku nyari info tentang pengalaman kena tilang dan ikut sidang pelanggaran lalin. Ternyata ya gitu-gitu aja, nggak seribet yang aku bayangin. Sidangnya mudah dan dendanya ngga sebanyak yang tercantum di pasal.

Sebelum ikut sidang ada cerita ke ortu, dan ortu ku ngash pilihan, ikut sidang atau mau dibayarkan (titip bayar via calo) calo? Ya aku langsung pilih ikut sidang aja. Kemudian beliau menambahkan, ikut sidang saja untuk cari pengalaman. Dan yupp ikut sidang emang sebuah pengalaman yang Alhamdulillah bisa buat nambah pengetahuan ehhe.

Ya, semua memang pembelajaran. Apa-apa yang Allah berikan kepada kita, ntah itu kita sukai atau tidak kita sukai, kita harapkan atau tidak kita harapkan, semuanya emang sebuah pemberian terbaik dari Allah. Karena hakikatnya kita hanya sebagai hamba yang harus menerima apa-apa yang Allah berikan kepada kita. Kita hanya mampu berproses, untuk selanjutnya hasil itu bener-bener urusan Allah semata.

Untuk sidang, salah satu ilmunya aku rasakan baru-baru ini. Jadi kemarin tiba-tiba di stop Polisi waktu berangkat ke kampus. Polisinya minta uang denda dibayar tunai di jalan saat itu juga, senilai 150rb (kesalahanku adalah lampu motor belakang warna putih, bukan warna merah). Si polisinya nakut-nakutin dengan nominal denda setiap pelanggaran, batinku “Halah Pak, itu kan denda maksimal, toh sidah ya Cuma kena 60rb per pasal, mending ikut sidang aja”. Ohya waktu itu dompetku ketinggalan di rumah, jadi untuk dapat surat tilang terpaksa motornya harus ditahan, dan akupun bersedia untuk itu. Sepertinya polisinya gedek, hingga yaudah sama polisinya aku ngga jadi kena tilang xD.

Semua memang pembelajaran. Kalau aku ngga pernah ikut sidang mungkin aku akan milih denda di tempat aja, padahal hal itu justru sangat merugikan bagiku, negara dan si polisi itu sendiri (bagi dia rugiya sih ntar di akhirat). Alhamdulillah, bahkan hal yang tidak kita harapkanpun itu mengandung pembelajaran yang luar biasa dari Allah. Masya Allah.

Sebenarnya ada banyak hal lain yang yaa intinya bahwa semua hal yang menimpa itu adalah pembelajaran. Sebuah pembelajaran biar kita bisa semakin baik dan maju lagi. Biar kita semakin peka dengan setiap keadaan dan mampu mengkondisikannya secara baik dan tepat.

Kadang ada sesuatu yang menimpa kita hingga kita ingin marah, ya karena kita nggak mengharapkan dan menginginkan hal itu. Tapi kita lupa, bahwa semua yang menimpa kita adalah bentuk dari kerja tangan kita sendiri. Jadi kita tidak boleh menyalahkan Allah, misal “Allah ini jahat banget sih, masa ngasih aku kayak gitu.” Kita lupa, padahal hasil yang kita dapatkan dari segala aktivitas kita adalah buah tangan kita sendiri, karena kita yang berproses, ya walau endingnya memang Allah yang menentukan.

Semoga yang sedikit ini bisa memberikan manfaat.

Nb: tagline tulisan ini adalah termasuk pembahasan qodho dan qodar.

Kamis, 26 November 2015

SEMESTER YANG SULIT


Bulan Desember akan segera datang. Akan ada banyak pelajar maupun mahasiswa yang akan melaksanakan UAS atau akronim dari Ujian Akhir Semester. Bagaimana semestermu yag sedang kau jalani saat ini? Apakah terasa mudah kau lalui? Ataukah teramat susah untuk kau jalani? Mungkin sedang dalam masa transisi. Mungkin engkau dulu masih SMA dan kini sudah memasuki bangku kuliah. Lantas, kau temui berapa kesulitan dalam semester pertama yang engkau jalani ini? Mungkin belum terbiasa dengan proses belajar di kampus. Mungkin belum bisa move on dengan cara bealajr di masa-masa SMA? Begitukah? Atau mungkin untukmu yang masih di dunia SMA? Adakah kesulitan di semestermu saat ini? Mungkin sekarang materi lebih sulit? Guru lebih galak? Atau? Memang engkau sekarang sedang di jenjang kelas XII sehingga engkau harus mempersiapkan UNAS yang sekitar 5-6 bulan lagi akan menyapamu, (insya Allah)?

Atau, engkau yang sudah cukup lama merasakan bangku perkuliahan. Masih adakah keulitan di semestermu saat ini? Mata kulaih yang semakin sullit? Dosen yang semakin cuek? Atau? Ada hal lain yang membatmu menyimpulkan bahwa semester inilah semester tersulit yang pernah kau alami?

Dan, untuk engkau yang mungkin sedang bekerja dan mengusahan hal lain. Adakah bahwa ini adalah semester yang amat sulit untuk perjalanan hidupmu? Mungkin semakin banyaknya masalah pribadi. Atau mungkin tentang keinginan yang tak kunjung terealisaikan? Pekerjaan yang amat sulit, atau? Adakah bahwa masa ini adalah semester tersulit yang pernah kau alami dalam kancah kehidupan di dunia ini?

SEMESTER YANG SULIT. Apa yang kau fikirkan tentang ini? Satu semester kita hitung sebagai kurun waktu dari enam bulan atau setengah tahun.  Hitungan semester tidak melulu dikhususkan untuk para pembelajar. Bahkan, hutang Indonesia pun juga dihitung per-semester. Pun kegiatan pemerintahan lainnya. Dan adakah bahwa ini (pertengahan tahun - akhir tahun 2015) sebagai hitungan semseter yang sulit? Menurutmu?

Aku tak memintamu untuk mendefinisikan bagaimana kesulitanmu menjalani semester yang sedang kau jalani. Tak perlu. Karena untuk apa aku mendengar itu semua, lantas hati  ini cukup mendengar tanpa adanya usaha untuk membantumu keluar dari segala kesulitan itu. Mata kuliah yag sulit? Deferensial? Atau hitungan matematik ekonomi yang menyulitkan itu? Aku malah tidak bisa.  Belum bisa.

Atau mungkin Try Out yang semakin sulit? Hasil bimbel yang seolah-olah selalu FAIL? Atau susahnya pkerjaan yang sedang engkau alami? Tanya aku? Aku bisa apa untuk membantumu?

Ya, inilah semester yang sulit. Untukku, untukmu, dan untuk kita juga kalian. Inilah fase yang sulit. Fase saat kita semua (sebagai ummat muslim, ummat dari Rassulullah Saw) sedang dikambinghitamkan atas segala kerusakan dan kejahatan yang ada di dunia, terutama dunia para pembesar kapitalis. Duni barat. Mungkin engkau lebih paham akan ini. Aku hanya bisa apa? Aku hanya bisa bercerita kepadamu mengenai inilah semester yang sulit untuk ummat muslim.

Bagaimana atas segala tragedi kejahatan kemanusiaan yang sedang terjadi di negeri syam dan negeri muslim lainnya tak pernah dilirik oleh mata dunia. Hanya secuil kematian yang jika dibandingkan dengan kematian para muslimin di seluruh dunia, lantas seluruh dunia mengecam itu semua. Aku tak pernah berfikir bahkan mengajakmu berfikir tentang jahatnya dunia memandang tragedi kejahatan manusai yang menimpa golongan manusai di berbagai negeri yang berbeda. Sekali lagi, aku hanya mengatakan dan lebih tepatnya, aku sedang bercerita inilah semester yang sulit. Padahal, dalam hadits Rasulullah SAW bersabda “Hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang muslim.” (at-Tirmidzi (no. 1395)).

Inilah semseter yang sulit. Saat dewan kejahatan dunia yang sesungguhnya menghancurkan masjid ummat muslim, masjidil aqsha. Dan saat dewan kejahatan kemanusiaan yang sesungguhnya sedang menghantam dengan mimik tertawanya, mereka menghantam muslim, tak peduli lelaki maupun wanita, tak peduli anak-anak maupun dewasa, di banyak negeri. Suriah, palestina, Rohingya, China, Iraq, dan banyak tempat lainnya.

Inilah semester yang sulit. Saat muslimah berpakaian syar’i dikatakan sebagai teroris. Saat wanita muslim dengan hijab syar’inya dikatakan sok suci dan sok agamis! Inilah juga saat semester yang sulit. Saat lelaki dengan pakaian tuntunan Nabi SAW justru dikatakan sebagai golongan wahabi! Ya, inilah semseter yang sulit. Untuk kaum muslimin di seluruh dunia. Termasuk dalam perkara ketika remaja muslim hendak menjaga pendangannya justru dikatakan tidak laku dan ntah, dengan berbagai julukan tak pantas lainnya. Ya Allah, inilah semseter yang sulit.

Masih terus berlanjut semester sulit lainnya. Dan aku akan berusaha menceritakannya ini kepadamu. Mohon kau baca ini sampai titik terakhir dari apa yang akan aku tuliskan.

Benarlah hadits yang ucapkan oleh Rasulullah SAW. Bahwa di akhir zaman ini akan banyak fitnah yang menimpa ummat muslim. Dan secara perlahan berbagai fitnah-fitnah itu benar-benar akan menimpa kaum muslimin.

Bersabda Rasulullah SAW, “Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti sekumpulan pemangsa yang memperebutkan hidangannya.” Maka seseorang bertanya: ”Apakah kerana sedikitnya jumlah kita?” ”Bahkan kalian banyak, namun kalian seperti buih dipermukaan air. Dan Allah telah mencabut rasa gentar dari dada musuh kalian terhadap kalian. Dan Allah telah menanamkan dalam hati kalian penyakit Al-Wahan.” Seseorang bertanya: ”Ya Rasulullah, apakah Al-Wahan itu?” Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Cinta dunia dan takut akan kematian.” (HR. Abu Dawud)

Inilah semester yang sulit. Saat banyak pemimpin yang tidak lagi amanah dalam melaksanakan tugas yang diembannya. Saat banyak pemimpin yang korupsi. Mulai dari tingkat baawah sampai teratas. Saat banyak amanah besar yang tidak diberikan kepada mereka yang mampu mengembannya. Saat hukuman benar-benar tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Saat hukum bak roti murah yang siapa saja boleh membelinya.

Astaghfirullah. Inilah semester yang sulit. Saat sulit sekali didapati transaksi yang bebas dari riba. Saat banyak dijumpai kecurangan dalam jual beli. Saat dijumpai bahwa pemakaian uang kertas yang tak ternilai itu sebagai salah satu sumber kehancuran perekonomian dunia.

Dan cerita ini masih terus berlanjut. Inilah semester yang sulit. Saat persatuan ummat muslim terdegradasikan oleh virus penjuru kehancuran bernama AHOBIYAH! Bagaimana ummat muslim kini tengah di kotak-kotakan, tentu oleh mereka yang gentar sekali dengan persatuan ummat muslim. Dengan licik mereka mengadu domba ummat muslim di seluruh dunia ini, hingga ummat muslim tersering lupa dengan hadits mengenai bahwa ummat muslim adalah satu tubuh. Ketika ada muslim yang sedang kesakitan seharusnya muslim yang lain juga akan meraskan kesakitan.
“Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan saling berempati bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggotanya merasakan sakit maka seluruh tubuh turut merasakannya dengan berjaga dan merasakan demam.” (HR. Muslim)
Bahkan, dalam hadits lain Rasulullah SAW juga memerintahkan agar sesama muslim saling menguatkan, “Seorang mukmin terhadap mukmin (lainnya) bagaikan satu bangunan, satu sama lain saling menguatkan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).
Namun kini, justru mereka sedang asyik dengan perdebatan khilafiyah. Sehingga lupa dengan permasalahan utama. Asatghfirullah semoga aku saja yang salah mendefinisikan kondisi ini. Bagaimana justru golongan lain asyik berkoalisi dengan pihak barat dan golongan lain sedang asyik dalam penjudgeannya menyalahkan golongan lain. Saling menuduh, saling menyalahkan, saling mengklaim golongannya paling benar, dan ntah apa lagi?

Inilah semester yang sulit. Saat wanita hanya dijadikan sebagai objek dari perdagangan. Dan peran negara hanya sebagai regulator dalam memberikan pelayanan untuk masyarakatnya. Di manakah peran negara yang sesungguhnya? Inilah semester yang sulit, saat berbagai bidang pokok dalam kenegaraan dijauhkan dari Islam. Ya, sekularisme. Hingga muncullah berbagai kesepakatan yang sangat melenceng dari hukum yang diturunkan oleh Allah SWT. Yang dari hal tersebut maka ummat manusai banyak menjumpai berbagai kesulitan hidup

Padahal, dalam firmanNya telah dikatakan :
“Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit.” (QS Thaha [20] 123-124)
Dan di ayat lain Allah menanyakan, lebih baik mana hukum buatan Allah atau hukum jahiliyah (jauh dari hukum Allah yang sebenarnya)?, ”Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS Al Maidah ayat 50)
Inilah semseter yang sulit. Saat pendidikan jauh dari nilai-nilai Islam sehingga mencetak generasi yang tak mau memperjuangkan Islam, minimal untuk dirinya sendiri. Bahkan dari pihak pengajar yang sekelas profesor! Banyak sekali pernyataan ngawur dari pemikiran mereka. LGBT sebagai fitrah Tuhan, pembelajaran Islam sebagai salah satu alasan mengapa anak menjadi radikal, dan ntah berapa banyak lagi argumen TIDAK BENAR yang mereka ungkapkan? Dan mirisnya, bagaimana peran penegakan hukum untuk masalah seperti ini. Mereka diam. Bahkan juga, pemeran mahasiswa yang digadang-gadang sebagai intelektual muda dengan nada “proudly-present” mempersebahkan acara berbau LGBT, ikhtilat bahkan khalwat, dan sederet aktivitas yang tak ada korelasinya dengan kepentingan akhirat. Padahal, dengan sungguh-sungguh masyarakat menjuluki mereka dengan julukan agent of change. Apakah change yang mereka maksud adalah change menuju keburukan?

Inilah semester yang sulit. Saat kebebasan di dewakan dan aturan Tuhan dinomor duakan. Saat hukum buatan manusia diagungkan dan hukum Allah disepelekan. Saat sistem pencetak generasi rusak dipertahankan dan sistem mulia warisan sang Nabi ditidak percayakan. Asatghfirullah. Inilah semseter yang sulit. Saat hukum-hukum Islam dicampakkan dan hukum-hukum sekuler di niscayakan.

Maka, dengan itu semua berbagai kerusakan begitu mudahnya berdatangan.  Tidak hanya itu, mungkin ini juga tanda bahwa akhir zaman begitu dekat. Bak selangkah-dua langkah lagi dunia ini akan usai.

Sebenarnya semester sulit ini tidak belaku hanya pada semester sekarang. Namun, sejak masa runtuhnya kekhilafahan Utsmani yakni pada tahun 1924, maka setiap semester yang kita jalani adalah kerusakan dan kerusakan. Mungkin kita tak merasakan kerusakan itu. Karena kita hanya melihat sekup Indonesia ini saja, tanpa pernah menengok bagaimana di luar sana. Atau mungkin kita memang sedang dilenakan dengan teror perang pemikiran yang sedang berjalan saat ini. Ya, kita dijajah tidak dengan fisik melainkan kita di jajah secara pemikiran. Maka pantas saja jika kita tak meraskan berbagai kerusakan itu. Padahal, kerusakan itu benar-benar sudah sangat  luar biasa, baik di Indonesia maupun di luar Indonesia. Astaghfirullah.

Tenang saja, jika ingin terus merasakan semester demi semseter yang sulit ini. Kita cukup hanya dengan berdiam diri. Atau mungkin yang lebih besar, kita bisa dengan turut dalam pencegahan perjuangan penegakan hukum Allah secara kaffah di dunia ini. Bisa dengan saling serang dan menyalahkan antar kaum muslim. Antipati dengan diskusi ke-Islaman. Hanya fokus pada permasalahan individu tanpa pernah mau melihat permasalahan ummat muslim secara keseluruhan. Bisa juga dengan engkau bergabung dengan golongan yang mendukung gerakan barat akan mengkotak-kotakan ummat Muslim. Paling ashobiyah, dan ntah mungkin ada yang lebih kreatif dalam hal ini.

Atau dengan cara ini, jangan pernah menyuarakan hukum Islam yang secara kompleks. Cukup Islam untuk diemban oleh individu saja. Apakah ini salah? Justru aku tak bisa menyalahkan. Karena memang Islam diwajibkan agar di emban oleh individu-individunya. Namun, tidak hanya cukup pada hal itu saja, Islam harus juga diemban oleh masyarakat dan negara. Agar, mudah dalam melaksanakan hukum Islam yang kompleks itu.

Astaghfirullah sungguh ingin sekali keluar dari semester yang sulit ini. Jauhkanlah kami dari sekedar memikirkan masalah individu kami saja. Bukakanlah pintu hati kamu agar turut bergerak memikirkan permasalahan ummat muslim secara keseluruhan ini. Ya Allah, sungguh peradaban saat ini banyak mengandung kerusakan dan menimbulkan perpecah belahan untuk kaum muslim, semoga Engkau segerakan tangan dan kaki kami agar turut bejuang menegakkan hukum-hukumMu di muka bumiMu ini. Semoga Engkau segerakan kemenangan atas kaum Mulim yang dahulu kala Engkau firmankan dalam ayatMu Ya Allah... aamiin.

Allah SWT berfirman, “Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan mengerjakan amal saleh, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai (Islam). Dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Tetapi barang siapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nur : 55)

Sungguh bukan maksud diri tuk menggurui bahkan merasa sok paling suci, diri ini hanya ingin menceritakan semester yang sulit juga bermaskdu tuk berbagai.

Semoga ada hikmah yang bisa diambil. Wallahu’alam. Cmiiw!

Jumat, 14 Agustus 2015

Yuk Donor Darah, Dijamin Berkah !!!

Coba bayangkan, jika kamu mengalami suatu kondisi seperti yang saya ceritakan berikut. Salah satu keluargamu mengalami penyakit kanker ovarium yang dimana membutuhkan transfusi darah 7 kantong dalam jangka waktu berdekatan. Saudaramu yang menderita penyakit kanker tersebut bergolongan darah A. Sedang fakta dilapangan, hanya dua orang saja di keluargamu yang bergolongan darah A, lainnya B dan O semua. Saat dua orang saudaramu yang bergolongan darah A tersebut hendak mendonorkan darahnya, eh kadar hemoglobinnya kurang. Yang satunya berat badannya yang kurang. Astaghfirullah, ini musibah atau musibah? Kira-kira, apa yang akan kamu lakukan? Pasrah saja atau berusaha mencari sukarelawan untuk mendonorkan darahnya khususon saudaramu yang terkena kanker tersebut?

Nah, saya yakin pasti semua orang ketika mendapatkan situasi seperti itu akan sangat merasa genting, kacau, fikirannya tak karuan, dan lain sebagainya. Dan pasti mau tidak mau kita akann kelabengan kesana-kemari mencari orang bergolongan darah A agar mau atau bersedia mendonorkan darahnya untuk saudara kita tersebut. Masalahnya, zaman sekarang sangat susah mencari pendomor darah.

Suatu waktu, saya berjumpa dengan seorang penunggu pasien yang sedang membutuhkan donor darah golongan B. Beliau menceritakan, betapa susahnya mencari orang golongan darah B yang mau mendonorkan darahnya. Lalu ada inisiatif dari salah satu sanak beliau yang mempublikasikan kebutuhan akan transfusi darah di suatu media sosial, dan akhirnya syukurlah banyak yang mengetahui, berempati dan akhirnya berkenan mendonorkan darahnya. Alhamdulillah.

Ada lagi kasus bahwa tidak semua orang bisa mendonorkan darahnya.. Untuk kasus ini, berikut syarat agar seseorang dapat mendonorkan darahnya, tentu syarat ini tidak termasuk menderita penyakit apa dan apa, ini hanya sebagian kecil syarat saja :
1. Berat badan minimal 45 kg
2. Kadar hemoglobin minimal 12.5 g/gl
3. Tekanan darah minimal 110
4. Khusus wanita tidak sedang haid dan tidak sesudah 7 hari masa pensucian haid
5. Tidak menderita penyakit (semisal tbv, aids, hiv, dll)
6. Usia minimal 17 tahun
Nah kebanyakan kasus bagaimana jika kadar hemoglobin selalu dibawah batas ketentuan? Ada tips dari akun twitter @blood4lifeID dan petugas donor darah di suatu Rsintinya sebelum donor usahakan tidur minimal 6 jam, jadi jangan begadang ya! Lalu usahakan sarapan dulu dengan makanan-makanan yang bergizi. Nah jika sedang puasa? Tenang saja, hukum berdonor darah ketika puasa tidaklah haram, selama ketika sehabis berdonor kita tidak mengalami hal-hal yang tidak diinginkan. Jadi untuk mengatasi hal tersebut usahakan ketika sahur kita minum banyak-banyak air putih. Insya Allah tidak apa-apa.

Jangan sampai hanya karena ingin donor saat puasa tapi justru meniatkan tidak puasa. Takut pingsan, tidak kuat, dll. Yakinlah semuanya tidak apa-apa. Yang terpenting banyak makan dan minum ketika makan sahur.

Sedang untuk menjaga berat badan? Usahakan berat badan minimal 47 agar kita ada dalam kondisi aman berdonor. Namanya berat badan pasti naik-turun. Agar aman ketika donor sewaktu-waktu usahakan makan teratur dan ditambahi kacang-kacangan agar tekanan darah juga normal.

Teman-teman, coba sekali lagi bayangkan kalau kita ada dalam kondisi yang saya ceritakan di awal artikel ini? Pasti kita sangat resah kan? Apakah suatu cerita di atas masih belum membuka mata dan hati kita untuk segera berdonor? Ingatlah, satu tetes darah kalian sangat berharga untuk ribuan pengantri penikmat transfusi darah dari kita.

Jika kita memang layak mendonorkan darah kita alias kita masuk dalam syarat-syarat menjadi seorang pendonor, ingatlah bahwa tidak semua manusia di bumi ini bisa dan layak menjadi pendonor darah. So, maksimalkan peluang ini, yakni dengan rutin mendonorkan darah setiap tiga bulan sekali. Toh jika terlalu kebanyakan bisa lima bulan sekali, dst.

Terutama untuk lelaki, pasti berat badannya ideal, tidak terganggu dengan masa haid. Jadi semakin besarlah peluang kalian untuk berdonor.

Apakah hukum berdonor itu dosa? Saya mengutip dalam konsultasisyariah.com, tidaklah dosa mendonorkan darah meski metode ini baru ada di zman modern ini. Karena sudah terbukti bahwa pengobatan ini dapat banyak membantu menyembuhkan orang sakit. Wallahu'alam.

Sesama muslim adalah saudara dan ibarat satu tubuh, ketika ada satu bagian tubuh yang sakit seharusnya kita merasakan sakit. Ketika ada saudara kita yang membutuhkan transfusi darah seharusnya kita segera maju ke gerbang terdepan untuk mencalonkan diri sebagai pendonor.

Selasa, 21 April 2015

Biar Liburanmu Ngga Garing !!!

Lega? Ya mungkin teman-teman yang habis melaksanakan UN dapat bernafas lega, meskipun belum sepenuhnya. Gimana bisa sepenuhnya lega gitu ya,? Ujiannya tiga atau empat hari eh digantungnya hampir sebulanan. Memang UN tidak menentukan kelulusan. Akan tetapi, nilau UN-nya itu loh yang jadi pikiran, iya nggak?

Ketika nilai UN kita bagus. Hmm asyik bener nih. Akan banyak kebahagiaan yang kita rasakan. Mulai dari bahagia karena membuat orang tua serta guru di sekolah bangga, rasa puas karena usaha kita selama ini benar-benar tidak mengkhianati, dan bahagia karena mendapatkan reward dari sekolah, hehe, btw di sekolah kalian kalau dapat nilai bagus sama sekolah dikasih reward kan? xD.


Selain itu, ketika nilai kita bagus kita akan dimudahkan di masa mendatangnya. Ntah kita mau kuliah atau kerja, bahkan nikah sekalipun. Kalau nilai kita bagus kita akan dengan mudah meraih itu semua. Tahun ini saja penentuan SNMPTN salah satu indikatornya dari nilai UN. Lalu kerja, pasti yang dilihat oleh perusahaan pertama kali adalah ijazah (kini bisa dikatakan SKHUN), mereka akan melihat berapa nilai UN kita. Nah, bisa bayangkan kan kalau nilai kita jelek, gimana kita bisa dengan mudah diterima?. Lalu menikah, kalau kita nanti punya anak, terus kita menyuruh anak kita "Nak, belajar biar pinterr", terus anak kita jawab "Ibu mah nyuruh aku belajar terus, dulu aja ibu matematika dapet 4, masa nyuruh aku belajar terus". Ckckck, naudzubillah deh ya. Tapi eitss, rizqi itu tetepp minallah kok, bukan minnilai hehe. So kalau kita jujur dapat mendapatkan nilai, seberapapun nilai kita, insya Allah Yang Diatas akan memudahkan semua urusan kita.

Terus, kemarin cara kalian dalam mengerjakan gimana? Baik nggak? Apakah kalian berbuat curang dengan menyontek, membeli kunci jawaban? Atau kalian memilih berlaku jujur? Apapun itu, yang penting jujur itulah yang paling tepat. Mengapa? Karena jujur itu akan membawa berkah dan rasa bangga yang mendalam buat pelakunya. Tentu yang utamanya, ini diridhoi oleh Allah. Bukankah kebahagiaan hakiki seorang muslim adalah ketika aktivitas yang dilakoninya memperoleh keridhoan Allah? Masalah nilai, atau pekerjaan tidak perlu takut. Serahkan semuanya pada Allah. Bukankah Allah Maha Adil? Kita sebagai manusia hanya mampu berusaha yang kita mampu. Dan untuk sesuatu hal yang tidak kita mampu, biarlah Allah yang melakukannya.

Percuma nilai bagus tapi tidak jujur. Karena bahwasannya dengan kalian tidak jujur itu sudah sama dengan kalian membodohi diri kalian sendiri. Menganggap kalian tidak mampu melakukan yang lebih. Ada sebagian dari pelajar kelas XII yang kemarin sampai membeli jawaban dengan harga yang tidak murah. Hal ini benar-benar konyol, mereka menghabiskan uang ratusan ribu bahkan jutaan rupiah untuk membeli secarik fotokopi yang berisi jawaban-jawaban. Padahal? Jawaban itu belum tentu benar. Karena bisa saja semua itu palsu.

Kini, usaha telah dilewati, tinggal berdoa yang terus dijalani. Terlepas dari semua itu, kalian apa-kan waktu luang kalian selama menunggu? Kan pasti nggak sesibuk sebelum UN tuh. Mau nglibur nggak berangkat sekolah aja nggak dimarahain atau dicredit point sama guru. Istilahnya kalian lebih leluasa berbuat seenaknya gitu. Apakah digunakan untuk hal yang positif? Atau malah sebaliknya?

Waktu luang mempunyai dua sisi, bisa jadi negatif bisa jadi positif. Artinya, ketika kita punya waktu luang, kita bisa terjerumus dengannya atau kita justru akan lebih maju dengannya. Dalam Islam aja waktu diartikan seperti pedang. Ketika kita tidak bisa memanfaatkan waktu sebaik mungkin, wah bisa alamat tuh. So, alangkah baiknya waktu luang setelah UN ini benar-benar kita manfaatkan untuk kemajuan hidup kita.

Jadikanlah masa-masa ini untuk menyelesaikan apa yang sempat tertunda karena terlalu memikirkan UN. Semisal, yang dulunya bolong-bolong ngaji Islam, yuk sekarang kan sudah ngga sesibuk dulu, jadi bisa dong mengkaji Islam. Bahkan kalau perlu benar-benar dimaksimalkan.

UN selesai bukan berarti belajarnya juga selesai loh ya. Belajar atau menuntut ilmu itu hukumnya wajib. Apalagi ilmu Islam, wah sangat wajib tuh. Ingin sukses didunia ya harus dengan ilmu. Begitupun ingin sukses diakhirat juga harus dengan ilmu. Banyak dari teman-teman kita yang salah kaprah memahami hakikat belajar. Mereka paham wajibnya belajar bahwasannya belajar itu didapat dari sekolah. Kan ada tuh slogan "Wajib belajar dua belas tahun".

Perlu diingat yah, belajar itu tidak ada batasnya kecuali mati. Mau kita tua, muda, kaya, miskin, dll itu tidak berpengaruh. Kan ada tuh hadist yang berbunyi "menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim". So, jika kamu mengaku muslim, maka wajib buat kamu buat menuntut ilmu. Sekolah, kuliah atau lembaga pendidikan lainnya dari pemerintah itu hanyalah sarana yang digunakan untuk menuntut ilmu. Dalam Islam bukan sekolahnya yang wajib, tapi menuntut ilmunya lah yang wajib.

Teman-teman bisa melihat dua contoh tokoh berikut : pertama, Bill Gates. Pasti sudah tau kan dia? Yups ! Dia saat ini di nobatkan sebagai salah satu orang terkaya di dunia. Pertanyaannya, apakah dia menuntut ilmu? Wahh ya jangan ditanya, sudah tentu dia mencari ilmu. Masa iya penemu Microsoft dulunya ngga mencari ilmu. Lalu pertanyaan kedua, dengan penemuannya yang sebegitu bermanfaatnya untuk semua orang di dunia ini, iyakah dia kelak akan masuk surga? Pasti semua sudah bisa jawab, dia aja bukan seorang muslim (saat ini), jadi begitulah jawabannya. Padahal kesuksesan tertinggi adalah ketika kita sukses masuk surga Allah.

Yang kedua, Muhammad Al Fatih. Btw, you know siapa beliau itu? Yups ! Bener banget, beliau adalah sosok yang menaklukan Konstatinopel (dahulu sebagai negeri adidaya). Pertanyaannya sama, apakah Muhammad Al Fatih dulu belajar? So pasti dong, dia sejak kecil sudah berkelana kesana-kemari dan berguru pada para ulama. Salah satu buktinya, beliau saja sampai bisa atau mahir tujuh bahasa ketika berusia 24 tahun. Keren, kan?. Dan pertanyaan kedua, apakah beliau akan masuk surga? Insya Allah.

Disini teman-teman bisa mengambil hikmah, pintar ilmu dunia saja tak akan pernah menjamin kesuksesan hakiki kita. So, perlu banget yang namanya kita itu belajar ilmu agama. Ngga boleh tergantung mood, karena ini sudah kewajiban. Mungkin dulu saat masih sibuk UN, diantara kita ada yang bilang "Haduh sibuk nih, dan bla bla bla". Nah, sekarang kan udah ngga sibuk, yuk moment ini dijadikan sebagai awalan yang baik. The good beginning.

Belajar Islam atau ngaji Islam itu penting banget loh. Di zaman sekarang ini kalau kita tidak membentengi diri kita dengan ilmu agama, yakin deh kita bakal kebawa arus kehancuran. Lihat, kerusakan sekarang ini terjadi dimana-mana. Pelaku atau korban kerusakan dari semua kalangan. Yuk buat teman-teman yang dulunya belum sempat atau malas belajar ilmu agamanya sendiri, mulai sekarang dipaksa buat belajar Islam. Berat? Awalnya aja, lama kelamaan enggak kok. Biasanya nih ya, berat itu karena tidak menikmati. Coba deh pas belajar Islam dinikmati betul, pasti nggak berat tuh

Selain belajar (ilmu agama), masih banyak loh aktivitas yang bisa kita lakuin untuk mengisi keluangan waktu ini. Mulai dari tilawah, puasa, berbuat baik, sedekah, nge-maksimalkan hobby, dan yang paling keren adalah dakwah .

Mulai dari tilawah, mungkin dulu ketika lagi sibuk-sibuknya belajar untuk UN ada sebagian dari kita yang sampai dengan ikhlas bin legowonya meninggalkan baca Quran. Padahal? Quran ini pedoman hidup kita, kalau kita ngga mau ngebacanya? Hmm aneh kan? Gimana bisa tahu sama apa-apa yang ada dalam Islam coba kalo kita ngga mau ngebacanya. Nah, ini kan mumpung kita lagi banyak freetime nya. Yuk lakukan baca quran. Semoga ini benar-benar menjadi suatu awalan yang bagus. Semoga aja bisa keterusan walau ntar kita sudah kuliah atau kerja sekalipun.

Dulu habis maghrib pasti kita pada sibuk menata buku sambil mempersiapkan bahan belajar untuk nanti malam. Nah, sekarang kan sudah ngga sibuk tuh? Yuk waktu ini dijadikan membaca quran. Satu 'ain its oke lah. Kan yang penting kontinue. Lagipula kan Allah itu menyukai amalan yang sedikit tetapi istiqomah. Susah? Udah coba dulu. Inget deh, aku punya slogan "we would make it if we try". Coba ya. Bismillah.

Lalu sekarang puasa. Btw pernah denger ngga? Kalo mau UN jangan puasa, ntar pas ngerjakan Soal UN lemes dan nggak fokus deh. Haduh, ni sebenarnya bener-bener salah kaprah. Dalil dari mana coba? Hihih. Alhasil ada beneran orang-orang yang ngga mau puasa pas momentum sebelum dan pas UN. Nah sekarang kan sudah ngga UN tuh? Bismillah yuk, kita mulai puasa. Mulai dari bayar hutang puasa ramadhan deh. Ohya u know kan? Dah Rajab loh sekarang, Ramadhan berarti sebentar lagi. Itu tandanya kita harus segera membayar hutang kita. Hehe. Kalau sudah lunas hutangnya, tenang, masih ada puasa Senin - Kamis sama Ayyamul Bidh. Itu tuh, puasa yang tiga hari dipertengahan setiap bulannya (bulan dalam Islam). Susah? Ya pasti. Surga kan diatas, jadi maklum aja kalo kita melakukan kebaikan pasti susah. Bismillah aja deh. Pasti bisa kok.

Lalu berbuat baik. Saat ini status kita adalah anak. Ingat kan kewajiban seorang anak apa? Ya birul walidyin, berbuat baik terhadap orangtua. Ingat, ridho Allah ridho orangtua. Begitu pun dengan murkanya Allah. Nah, selama ini sudahkah kita berbuat baik pada kedua insan mulia ini? Kalau belum, yuk mulai sekarang kita buktikan bahwa kita patut menjadi anak yang mampu dibanggakan. Dengan apa? Dengan menuruti perintah keduanya selama dalam lingkup ketaatan loh ya. Kalau dalam kemaksiatan kepada Allah kita tidak dibolehkan taat. Berbuat baik tak hanya pada orangtua saja. Akan tetapi juga dengan sesama. Dengan saudara, teman, sahabat, guru dan banyak lagi. Berbuat baik itu tiada batasan. Lelah? Itu pasti. Tapi tenang, kelelahan itu akan hilang. Tapi pahala atau kebaikan yang diperoleh tidak akan hilang. Subhanallah..

Ya dan mengisi waktu luang yang paling keren itu adalah dakwah. Nggak percaya? Monggo dicoba saja. Jangan pikirkan berapa usiamu. Jangan pikirkan apa jabatanmu. Jangan pikirkan bahwa dakwah hanya untuk orang yang suci. Mengapa? Karena kalau dakwah disyaratkan seperti itu, dakwah tidak akan jalan. Dan islam tidak akan sampai pada sekarang. Ingat, kita hanya manusia biasa. Tempatnya salah dan diliputi dosa. Rasulullah bersabda " sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat". Ya, kita hanya disuruh menyampaikan. Apa yang kita dengar selama itu baik dan benar #Islam, ya kita sampaikan. Untuk apa? Untuk mengajak pada jalan kebenaran yang akan membawa kebaikan.

Oke, denger kata dakwah yang ada dipikiran teman-teman seperti apa? Dakwah diperuntukan bagi mereka yang bergelar ustadz - ustadzah? Dakwah itu disampaikan di masjid-masjid, iya? Wahhh, kalau iya pemahaman kalian belum benar nih. Dakwah bisa ditujukan dimana saja, dan oleh muslim siapa saja. Mau di masjid, sekolah, pasar, kuliahan, atau dari ustadzah, kyai, pelajar, ibu rumah tangga, guru dll. Dakwah tidak harus resmi berupa forum kajian. Akan tetapi, ketika kita melihat orang yang tidak menutup aurat lalu kita menegurnya, ini dakwah. Ketika ada teman yang menyontek kita mengingatkannya, ini dakwah. Ketika ada orang yang tidak sholat dan kita menyuruhnya, ini pun juga dakwah.

"Kalau sering negur, ngingetin, ntar dibilang cerewet gimana dong?". Ya nggak gimana-gimana, cerewet untuk kebaikan itu baik. Kalau kita diamkan saja orang yang terang-terangan dalam maksiat dia dosa, kita pun juga dosa karena membiarkan.

Gunakanlah prinsip PAS (Pelajari, Amalkan, dan Sampaikan (dakwah)). Teman-teman sudah mempelajari ilmu. Kalau sudah dipelajari langsung diamalkan. Biar berarti bari deh di sampaikan pada orang lain. Betapa indahnya orang yang menyampaikan kebaikan dan kebaikan itu dilakukan oleh orang yang didakwahkan. Orang yang mendakwahkan akan menndapat pahala dari orang yang melakukan, tanpa mengurangi pahala orang yang melakukan. Begitupun terus selanjutnya. Investasi pahala tuh.

Dan ini pembahasan terakhir. Meskipun sebenarnya ini bukanlah opsi terakhir yang akan kami bahas untuk mengisi keluangan waktu setelah UN ini. Ketika banyak waktu luang, alangkah baiknya kita mengisinya dengan hal-hal positif. Apalagi kalau hal positif adalah hobby kita? Syukur-syukur sama Allah kehitung pahala kebaikan untuk kita. Lebih syukur lagi kalau bisa mendatangkan uang pula. Hmm seru kan? Tapi btw gimana ya caranya?

Oke, karena kita disini terlalu baik (hehe, ngarep banget ya dibilang baik), maka kita akan ngasih tau temen-temen nih. Misal nih ya hobby kalian membaca. Bisa tuh kalian lahap banyak buku yang sempat tertunda. Daripada habis baca buku diem aja, coba bikin resensi. Kirim ke media cetak. Kalo diterima syukur Alhamdulillah. Kalo engga? Tetep Alhamdulillah. Coba bikin blog dan post deh tulisanmu di blog. Pasti bermanfaat buat banyak orang. Pahala deh. Simple kan?

Misal juga kalian hobby nulis, bisa juga waktu free sekitar 1,5 bulan ini kalian bikin untuk membuat suatu mahakarya (ciye bahasanya mahakarya, hehe). Maksudnya ya ntah nulis cerbung, cerpen, artikel, esai, buku atau novel sekalipun kalau perlu. Sehari satu bab. Hmm, satu bulan udah jadi deh tu buku. Tinggal kirim ke penerbit, berdoa semoga proses pencetakannya dimudahkan sama Allah. Dapet uang, dapet pengalaman, dapet ilmu, ngelatih skill, dapet pahala. Waduh banyak banget keuntungannya. Asik atau asik, nih?

Dan mungkin kalian punya hobby-hobby lainnya.intinya, apapun hobby kalian maksimalkanlah. Mumpung ada waktu. Jadikan masa luang belajar ilmu sekolah ini untuk mengawali berbagai kegiatan positif. Semoga menjadi kebiasaan. Aamiin

Ya, seperti kata diawal tadi "waktu adalah pedang". Meskipun di negeri kita tercinta ini, waktu adalah karet hhehehe. Intinya mah tetap waktu itu sangat penting. Apa yang terjadi tidak bisa diulangi. So, buat teman-teman semuanya yuk gunain waktu kamu untuk hal yang bernilai positif . Tak hanya itu, tentu juga bisa membawa manfaat baik diri sendiri maupun oranglain. Bijaklah dalam menggunakan waktu luang liburmu. Selamat menunggu , semoga hasil UN kita dapat buat airmata jatuh haru. Dan dapat menambah kemuliaan bagi agama kita, Islam.

Rabu, 18 Maret 2015

A Story Plot Of Da'wah (Kisah Dakwah Remaja)


Alkisah pada suatu hari di suatu negeri, bernama negeri ATB. Ada dua remaja, sebut saja Indah dan Alxi.
Keduanya sama-sama duduk dibangku SLTA. Lebih tepatnya di SLTA PHR (Penuh Harapan). Indah kelas X IPA sedang Alxi kelas X IPS.
Keduanya menikmati hidup layaknya orang tak hidup. Hidup berantakan, tak pernah sholat, menutup aurat "ogah", berbakti kepada ortu? Gakkk mungkin !
Waktu terus berjalan, Indah dan Alxi menemukan suatu komunitas bernama MHMLB (Merubah Hidup Menjadi Lebih Baik) Indah dan Alxi bertemu dengan sosok wanita shalihah bernama, Kak Sari.
Kak Sari, sosok penyabar, wajahnya indah krna wudhu dan lisannya berbobot karena tiada pernah tidak membaca al quran di setiap harinya.
Hari terus berlanjut, Indah dan Alxi menemukan jati dirinya. Perlahan ia mulai mengerti, apa hidup ini, dari mana ia berasal, untuk apa ia di dunia dan akan kemana setelahnya?
Begitupun saat di sekolah. Walau masih kelas X dan sebentar lagi ia beranjak kelas XI. Namun semangatnya sangatlah luar biasa.
Ditengah-tengah kehidupan dan pergaulan remaja di sekolahnya yang semakin jauh dari Islam. Mereka bertekad merubah semua itu.
Hingga pada suatu hari, Indah dan Alxi dicemooh oleh para temannya, oleh kakak kelasnya, bahkan oleh gurunya !
Oleh temannya, "Kamu masih baru pake kerudung kemaren aja udah sok ustadzah !"
Oleh kakak kelasnya "Cuih, adik kelas aja songgong banget sok nasihatin kakak kelas!"
Oleh gurunya "Kamu itu baru ngerti Islam kemarin kok udah sok-sokan berdakwah! Ngaca dulu sana. Jangan paling merasa benar!"
Hampir semua masyarakat sekolah menolak dakwah Indah dan Alxi.
Mereka berdua sedih? Pasti. Tapi mereka tetap berpegang teguh bahwasannya memang berdakwah itu untuk semua kalangan, termasuk remaja.
Hal itu sejalan dengan firman Allah dalam qs. 03 : 104. Belum lagi pada beberapa hadits yang disabdakan oleh Rasulullah SAW.
Semisal hadits  tentang perumpamaan perahu, hadits tentang harus mengurusi ummat, dan lain sebagainya.
Setelah menjalani hari-hari yang penuh dengan cemooh dan hinaan. Indah dan Alxi justru semakin bersemangat dalam berdakwah.
Mereka berdua teringat akan kisah Rasulullah pada awal menyiarkan Islam. Dulu Rasul juga dihina, bahkan disiksa.
Belum lagi para sahabat-sahabat lainnya. Semisal sosok remaja tampan nan pemberani, Musaib Bin Umair. Ada lagi Bilal bin Rabah, dan lain sebagainya.
Sesungguhnya memang tidak ada sesuatu yang tanpa ujian. Apalagi suatu kebaikan, pasti dan pasti akan di iringin dengan yang namanya ujian-ujian.
Karena hakikat ujian adalah sebuah ketentuan Allah untuk menjadikan hambaNya semakin naik grade dihadapanNya.
Pada suatu hari Indah dan Alxi menemui masa dimana bisa dikatakan paling membahagiakan
Setelah cukup lama mereka berdua terus berdakwah, hingga kini mereka telah beranjak menginjak kelas XI hamper semester 2.
Perlahan mulai ada yang menerima dakwah mereka berdua. Mereka sangat bersyukur. Meski hanya satu dua, tapi bagi mereka itu tak mengapa.
Yang terpenting adalah dakwah ini harus terus berlanjut. Apapun tanggapan sang objek dakwah, dakwah ini harus terus dijalani, terus dinikmati.
Itulah sedikit proses dari dua sahabat, Indah dan Alxi yang dengan kesabarannya mau terus menjalani setiap kesulitan-kesulitan dlam berdakwah.
Karena yakin dan yakin pasti ada masa di mana dakwah kita semua akan berhasil.
Ada yang ingin bertanya? Ini cerita fiksi ataukah non fiksi? Semua berhak menjawab dan semua berhak bertanya J
Tanyakanlah pada langit yang walau mereka tak dapat berbicara namun mereka akan sellau melihat apa-apa aktivita manusia di bumi.
Kisah berdakwah bagi seorang remaja di sekolah memang sangat menarik, sangat menantang dan sangat indah. Walau keindahan tak selamanya di dunia, terkadang juga di surgaNya kelak. Insya Allah.
Jangan pernah berhenti untuk berdakwah walau dakwah kita ditolak oleh kebanyakan orang. Bahwasannya yang Allah lihat adalah bagaimana proses kita. Bukan apa hasil kita.
Jika kita bisa ikhlas dan ma uterus berusaha, insya Allah pahala sudahlah untuk kita. Syaratnya kita harus ikhlas dan mencoba dulu.
Lalu poin terpenting melakukannya sesuai dengan apa yang Islam ajarkan, selayaknya Rasulullah saw.
Semoga dapat mengambil hikmah dari yang singkat dan kadang tidak teratur ini. Aamiin.