kring..kring..kring.. bunyi suara dari tangan yang bersuara dan mulut yang tidak bersuara.
Aku
pernah mengalami kondisi yang sangat lapar dan haus. Maklum, saat itu ba’da
maghrib aku baru keluar dari kampus. Sedari pagi aku belum makan apa-apa, minum
seteguk airpun belum. Waktu akan keluar kampus aku coba bertanya kepada temanku
yang memang ngekost di sekitar kampus. “Kira-kira soto ayam yang enak di Jalan
Ambarawa (jalan belakang kampusku) di mana, ya?”. Dan hmm, ternyata dia tidak
tahu. Akhirnya sepanjang jalan ambarawa aku membelalakkan mata, sayangnya ada
satu warung soto ayam yang ternyata sudah tutup. Saat itu hujan, dan banyak
aroma ayam goreng yang berderetan sepanjang jalan. Biasanya aku lebih memilih
makan mie ayam yang pedas, tapi aku sadar betul perutku belum terisi apa-apa
selama satu hari penuh. Jadi serasa riskan jika harus dipaksakan makan mie.
Waktu
itu yang bergentayangan di otakku hanyalah soto ayam, soto ayam dan soto
ayam. Sepanjang jalan pulang aku
mencari-cari di mana warung soto ayam yang tempatnya nyaman. Setidaknya tidak
dipenuhi oleh bapak-bapak yang lagi ngopi. Dan sekitar lima kilometer dari
kampus ada soto ayam yang lumayan sepi dan tempatnya nyaman, namun karena nama
warungnya agak melenceng dari Islam akhirnya aku membatalkan niatku makan di
warung tersebut. Dan satu kilometer dari warung tersebut aku mendapati warung soto ayam bernama SOTO
AYAM MADURA. Tidak berfikir lama aku langsung memencet riting sepeda motorku
dan menyeberang.
“Soto
apa Mbak?” ucap Mas-mas pedagang soto.
“Emang
adanya soto apa aja, Mas?
“Itu
Mbak daftarnya, pilih yang mana?” Dia
sambil menunjuk daftar menu yang terpampang di tembok.
“Soto
daging 16.000, soto jeroan 12.000, soto babat 14.000, dll banyak ada sekitar
empat sampai lima soto”
“Soto
daging aja, Mas” aku sambil membayangkan soto jeroan? Babat? Hah? Ndakkk
banget.
“Minumnya
apa Mbak?”
“Minuman
botol nggak ada ya Mas? Aku sudah membayangkan segarnya Freshtee.
“Nggak
ada Mbak, Cuma jeruk dan teh”
“Yaudah
es jeruk Mas”
Dannnn,
setelah soto tersaji aku baru sadar. Ini bukan soto ayam, melainkan soto sapi.
Hiks. Udah gitu penjualnya kayak orang China. Aku jadi makannya pelan-pelan dan
aku rasakan apakah bisa jadi ini soto babi? Soalnya mengingat di sebelah warung
ini agak jauh ada penjual babi krengsengan. Ckck. Tapi Alhamdulillah ini soto
sapi kok. Hehe.
Setelah
selesai makan, bayar deh. Dan agak kaget ternyata 16.000 itu bukan termasuk
nasinya, alhasil bener-bener deh makan di hari itu. Es jeruknya juga mahal
banget. Mungkin dari sini banyak sekali hikmah atas kejadian sekedar beli soto.
Pertama, jadi orang tuh yang fokus, otak mikirin soto ayam yaa masa kaki dan
tangan menuju soto daging (sapi). Jadi orang jangan terburu-buru walau kondisi
lagi genting (kelaperan). Setidaknya bersabarlah nyari tempat makan yang
bener-bener harganya sesuai kantong mahasiswa. Jika disandarkan pada realitas
kehidupan, pilihlah sesuatu yang bener-bener kita sudah tahu maksud dan
tujuannya.
Pindah
ke cerita lain. Waktu itu akhir semester satu. Aku ada tugas membuat video
presentasi. Aku mikirnya yah buat video mah ya gitu-gitu aja. Akhirnya ngulur
waktu sampai ke penghujung deadline baru mau ngerjakan. Pas take video,
subhanAlla ternyata ngga semudah yang dibayangin. Udah gitu bener-bener lembur
dan banyak yang di cut. Pas paginya mau ngedit videonya dan ternyata hasil
videonya bener-bener jelek banget. Dan jadilah bikin video lagi.
Lagi-lagi
semua memang pembelajaran. Salah siapa ngerjakan tugas tapi diundur-undur
terus? Salah siapa ngegampangin sesuatu yang belum pernah dicoba? Salah siapa nggak
ngecek hasil take video jauh-jauh waktu sebelum mau nyambung-nyambung tuh
video? Ya dikembalikan lagi intinya sih salah saya sendiri. Barang kali hal
konyol ini bisa dijadikan pembelajaran, ya jangan seperti itu semua dong.
Pindah
ke cerita lainnya lagi, tentang pelanggaran lalin. Waktu itu aku nganter temen
ke stasiun, dia mau pulkam. Kami berdua bener-bener ngga kepikiran mengenai
helm. Alhasil aku ngebonceng temenku yang ngga pake helm. Pas berangkat
semuanya lancar hingga pas pulangnya kami dipanggil polisi, kurang peka, lanjut
jalan terus. Nggak taunya dah diikutin Pak Polisi aja. Langsung ditanyain
mengenai dokumen kelengkapan kendaraan, dan “Mb sidang di Jl Dr Cipto hari Jum’at”.
Huftt,
kalo boleh jujur saat itu shock banget. Pas lihat pasalnya, dendanya sampai ada
yang satu juta. Satu juta? Banyak banget. Hingga akhirnya aku nyari info
tentang pengalaman kena tilang dan ikut sidang pelanggaran lalin. Ternyata ya
gitu-gitu aja, nggak seribet yang aku bayangin. Sidangnya mudah dan dendanya
ngga sebanyak yang tercantum di pasal.
Sebelum
ikut sidang ada cerita ke ortu, dan ortu ku ngash pilihan, ikut sidang atau mau
dibayarkan (titip bayar via calo) calo? Ya aku langsung pilih ikut sidang aja. Kemudian
beliau menambahkan, ikut sidang saja untuk cari pengalaman. Dan yupp ikut
sidang emang sebuah pengalaman yang Alhamdulillah bisa buat nambah pengetahuan
ehhe.
Ya,
semua memang pembelajaran. Apa-apa yang Allah berikan kepada kita, ntah itu
kita sukai atau tidak kita sukai, kita harapkan atau tidak kita harapkan,
semuanya emang sebuah pemberian terbaik dari Allah. Karena hakikatnya kita
hanya sebagai hamba yang harus menerima apa-apa yang Allah berikan kepada kita.
Kita hanya mampu berproses, untuk selanjutnya hasil itu bener-bener urusan
Allah semata.
Untuk
sidang, salah satu ilmunya aku rasakan baru-baru ini. Jadi kemarin tiba-tiba di
stop Polisi waktu berangkat ke kampus. Polisinya minta uang denda dibayar tunai
di jalan saat itu juga, senilai 150rb (kesalahanku adalah lampu motor belakang
warna putih, bukan warna merah). Si polisinya nakut-nakutin dengan nominal
denda setiap pelanggaran, batinku “Halah Pak, itu kan denda maksimal, toh sidah
ya Cuma kena 60rb per pasal, mending ikut sidang aja”. Ohya waktu itu dompetku
ketinggalan di rumah, jadi untuk dapat surat tilang terpaksa motornya harus
ditahan, dan akupun bersedia untuk itu. Sepertinya polisinya gedek, hingga
yaudah sama polisinya aku ngga jadi kena tilang xD.
Semua
memang pembelajaran. Kalau aku ngga pernah ikut sidang mungkin aku akan milih
denda di tempat aja, padahal hal itu justru sangat merugikan bagiku, negara dan
si polisi itu sendiri (bagi dia rugiya sih ntar di akhirat). Alhamdulillah,
bahkan hal yang tidak kita harapkanpun itu mengandung pembelajaran yang luar
biasa dari Allah. Masya Allah.
Sebenarnya
ada banyak hal lain yang yaa intinya bahwa semua hal yang menimpa itu adalah
pembelajaran. Sebuah pembelajaran biar kita bisa semakin baik dan maju lagi. Biar
kita semakin peka dengan setiap keadaan dan mampu mengkondisikannya secara baik
dan tepat.
Kadang
ada sesuatu yang menimpa kita hingga kita ingin marah, ya karena kita nggak
mengharapkan dan menginginkan hal itu. Tapi kita lupa, bahwa semua yang menimpa
kita adalah bentuk dari kerja tangan kita sendiri. Jadi kita tidak boleh
menyalahkan Allah, misal “Allah ini jahat banget sih, masa ngasih aku kayak
gitu.” Kita lupa, padahal hasil yang kita dapatkan dari segala aktivitas kita
adalah buah tangan kita sendiri, karena kita yang berproses, ya walau endingnya
memang Allah yang menentukan.
Semoga
yang sedikit ini bisa memberikan manfaat.
Nb:
tagline tulisan ini adalah termasuk pembahasan qodho dan qodar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar