Jumat, 10 Juni 2016

ALL THESE ARE PEMBELAJARAN

kring..kring..kring.. bunyi suara dari tangan yang bersuara dan mulut yang tidak bersuara.

Aku pernah mengalami kondisi yang sangat lapar dan haus. Maklum, saat itu ba’da maghrib aku baru keluar dari kampus. Sedari pagi aku belum makan apa-apa, minum seteguk airpun belum. Waktu akan keluar kampus aku coba bertanya kepada temanku yang memang ngekost di sekitar kampus. “Kira-kira soto ayam yang enak di Jalan Ambarawa (jalan belakang kampusku) di mana, ya?”. Dan hmm, ternyata dia tidak tahu. Akhirnya sepanjang jalan ambarawa aku membelalakkan mata, sayangnya ada satu warung soto ayam yang ternyata sudah tutup. Saat itu hujan, dan banyak aroma ayam goreng yang berderetan sepanjang jalan. Biasanya aku lebih memilih makan mie ayam yang pedas, tapi aku sadar betul perutku belum terisi apa-apa selama satu hari penuh. Jadi serasa riskan jika harus dipaksakan makan mie.

Waktu itu yang bergentayangan di otakku hanyalah soto ayam, soto ayam dan soto ayam.  Sepanjang jalan pulang aku mencari-cari di mana warung soto ayam yang tempatnya nyaman. Setidaknya tidak dipenuhi oleh bapak-bapak yang lagi ngopi. Dan sekitar lima kilometer dari kampus ada soto ayam yang lumayan sepi dan tempatnya nyaman, namun karena nama warungnya agak melenceng dari Islam akhirnya aku membatalkan niatku makan di warung tersebut. Dan satu kilometer dari warung tersebut  aku mendapati warung soto ayam bernama SOTO AYAM MADURA. Tidak berfikir lama aku langsung memencet riting sepeda motorku dan menyeberang.
“Soto apa Mbak?” ucap Mas-mas pedagang soto.
“Emang adanya soto apa aja, Mas?
“Itu Mbak daftarnya, pilih  yang mana?” Dia sambil menunjuk daftar menu yang terpampang di tembok.
“Soto daging 16.000, soto jeroan 12.000, soto babat 14.000, dll banyak ada sekitar empat sampai lima soto”
“Soto daging aja, Mas” aku sambil membayangkan soto jeroan? Babat? Hah? Ndakkk banget.
“Minumnya apa Mbak?”
“Minuman botol nggak ada ya Mas? Aku sudah membayangkan segarnya Freshtee.
“Nggak ada Mbak, Cuma jeruk dan teh”
“Yaudah es jeruk Mas”

Dannnn, setelah soto tersaji aku baru sadar. Ini bukan soto ayam, melainkan soto sapi. Hiks. Udah gitu penjualnya kayak orang China. Aku jadi makannya pelan-pelan dan aku rasakan apakah bisa jadi ini soto babi? Soalnya mengingat di sebelah warung ini agak jauh ada penjual babi krengsengan. Ckck. Tapi Alhamdulillah ini soto sapi kok. Hehe.

Setelah selesai makan, bayar deh. Dan agak kaget ternyata 16.000 itu bukan termasuk nasinya, alhasil bener-bener deh makan di hari itu. Es jeruknya juga mahal banget. Mungkin dari sini banyak sekali hikmah atas kejadian sekedar beli soto. Pertama, jadi orang tuh yang fokus, otak mikirin soto ayam yaa masa kaki dan tangan menuju soto daging (sapi). Jadi orang jangan terburu-buru walau kondisi lagi genting (kelaperan). Setidaknya bersabarlah nyari tempat makan yang bener-bener harganya sesuai kantong mahasiswa. Jika disandarkan pada realitas kehidupan, pilihlah sesuatu yang bener-bener kita sudah tahu maksud dan tujuannya.

Pindah ke cerita lain. Waktu itu akhir semester satu. Aku ada tugas membuat video presentasi. Aku mikirnya yah buat video mah ya gitu-gitu aja. Akhirnya ngulur waktu sampai ke penghujung deadline baru mau ngerjakan. Pas take video, subhanAlla ternyata ngga semudah yang dibayangin. Udah gitu bener-bener lembur dan banyak yang di cut. Pas paginya mau ngedit videonya dan ternyata hasil videonya bener-bener jelek banget. Dan jadilah bikin video lagi.

Lagi-lagi semua memang pembelajaran. Salah siapa ngerjakan tugas tapi diundur-undur terus? Salah siapa ngegampangin sesuatu yang belum pernah dicoba? Salah siapa nggak ngecek hasil take video jauh-jauh waktu sebelum mau nyambung-nyambung tuh video? Ya dikembalikan lagi intinya sih salah saya sendiri. Barang kali hal konyol ini bisa dijadikan pembelajaran, ya jangan seperti itu semua dong.

Pindah ke cerita lainnya lagi, tentang pelanggaran lalin. Waktu itu aku nganter temen ke stasiun, dia mau pulkam. Kami berdua bener-bener ngga kepikiran mengenai helm. Alhasil aku ngebonceng temenku yang ngga pake helm. Pas berangkat semuanya lancar hingga pas pulangnya kami dipanggil polisi, kurang peka, lanjut jalan terus. Nggak taunya dah diikutin Pak Polisi aja. Langsung ditanyain mengenai dokumen kelengkapan kendaraan, dan “Mb sidang di Jl Dr Cipto hari Jum’at”.

Huftt, kalo boleh jujur saat itu shock banget. Pas lihat pasalnya, dendanya sampai ada yang satu juta. Satu juta? Banyak banget. Hingga akhirnya aku nyari info tentang pengalaman kena tilang dan ikut sidang pelanggaran lalin. Ternyata ya gitu-gitu aja, nggak seribet yang aku bayangin. Sidangnya mudah dan dendanya ngga sebanyak yang tercantum di pasal.

Sebelum ikut sidang ada cerita ke ortu, dan ortu ku ngash pilihan, ikut sidang atau mau dibayarkan (titip bayar via calo) calo? Ya aku langsung pilih ikut sidang aja. Kemudian beliau menambahkan, ikut sidang saja untuk cari pengalaman. Dan yupp ikut sidang emang sebuah pengalaman yang Alhamdulillah bisa buat nambah pengetahuan ehhe.

Ya, semua memang pembelajaran. Apa-apa yang Allah berikan kepada kita, ntah itu kita sukai atau tidak kita sukai, kita harapkan atau tidak kita harapkan, semuanya emang sebuah pemberian terbaik dari Allah. Karena hakikatnya kita hanya sebagai hamba yang harus menerima apa-apa yang Allah berikan kepada kita. Kita hanya mampu berproses, untuk selanjutnya hasil itu bener-bener urusan Allah semata.

Untuk sidang, salah satu ilmunya aku rasakan baru-baru ini. Jadi kemarin tiba-tiba di stop Polisi waktu berangkat ke kampus. Polisinya minta uang denda dibayar tunai di jalan saat itu juga, senilai 150rb (kesalahanku adalah lampu motor belakang warna putih, bukan warna merah). Si polisinya nakut-nakutin dengan nominal denda setiap pelanggaran, batinku “Halah Pak, itu kan denda maksimal, toh sidah ya Cuma kena 60rb per pasal, mending ikut sidang aja”. Ohya waktu itu dompetku ketinggalan di rumah, jadi untuk dapat surat tilang terpaksa motornya harus ditahan, dan akupun bersedia untuk itu. Sepertinya polisinya gedek, hingga yaudah sama polisinya aku ngga jadi kena tilang xD.

Semua memang pembelajaran. Kalau aku ngga pernah ikut sidang mungkin aku akan milih denda di tempat aja, padahal hal itu justru sangat merugikan bagiku, negara dan si polisi itu sendiri (bagi dia rugiya sih ntar di akhirat). Alhamdulillah, bahkan hal yang tidak kita harapkanpun itu mengandung pembelajaran yang luar biasa dari Allah. Masya Allah.

Sebenarnya ada banyak hal lain yang yaa intinya bahwa semua hal yang menimpa itu adalah pembelajaran. Sebuah pembelajaran biar kita bisa semakin baik dan maju lagi. Biar kita semakin peka dengan setiap keadaan dan mampu mengkondisikannya secara baik dan tepat.

Kadang ada sesuatu yang menimpa kita hingga kita ingin marah, ya karena kita nggak mengharapkan dan menginginkan hal itu. Tapi kita lupa, bahwa semua yang menimpa kita adalah bentuk dari kerja tangan kita sendiri. Jadi kita tidak boleh menyalahkan Allah, misal “Allah ini jahat banget sih, masa ngasih aku kayak gitu.” Kita lupa, padahal hasil yang kita dapatkan dari segala aktivitas kita adalah buah tangan kita sendiri, karena kita yang berproses, ya walau endingnya memang Allah yang menentukan.

Semoga yang sedikit ini bisa memberikan manfaat.

Nb: tagline tulisan ini adalah termasuk pembahasan qodho dan qodar.

Tidak ada komentar: