Banyak
orang bilang bahwa mahasiswa adalah sosok agent
of change. Agent of change di
sini maknanya ternyata sangatlah luas. Ada yang mengarah ke arah perubahan
sebenar-benarnya dan ada pula yang mengarah pada arah perubahan pragmatis.
Dengan
adanya semboyan bahwa mahasiswa adalah agent
of change maka bermunculanlah berbagai gerakan-gerakan yang ada di kampus.
Baik yang ber-background keagamaan
maupun bukan.
Di
tulisan ini penulis tidak akan membahas gerakan-gerakan tersebut. Namun penulis
akan lebih membahas mengenai subjek dari pelaku gerakan itu sendiri. Siapa lagi
jika bukan mahasiswa. Ya, seperti yang dikatakan di atas bahwa mahasiswa adalah
sosok agent of change. Namun pada
kenyataannya tidak semua mahasiswa pantas untuk mendapatkan gelar kehormatan
dari kebanyakan orang tersebut. Pada fakanya banyak sekali jenis-jenis
mahasiswa yang berkeliaran di kampus. Dari berbagai macam tersebut ternyata
hanya sedikit yang pantas dan berhak mendapatkan gelar agent of change.
Jenis
pertama adalah mahasiwa akademis.
Jenis mahasiswa ini fokus utama kuliah adalah mengikuti kelas secara rajin, aktif
saat diskusi dan ntah bagaimanapun caranya dia harus mendaptkan IP minimal 3,5.
Jika bertanya saat diskusi, mahasiswa jenis ini lebih suka menanyakan hal yang
sangat teoritis dan sangat jauh dari implementasi dalam kehidupan nyata. Jika
ada tugas analisis, biasanya mereka kurang mendapatkan fakta dan hanya
berkecimpung dalam berbagai teori-teori. Namun, tidak semua mahasiswa akademis
seperti ini. Hanya sebagain besar atau justru hanya sekian persen saja. Ohya
mereka aktifitas kesehariannya hanyalah belajar, mengerjakan tugas, main, makan
dan tidur saja. Lebih tepatnya tempat mereka berada hanya kelas –
perpus – kost-kkostan.
Jenis
kedua adalah mahasiswa instan. Jenis
mahasiswa ini kurang suka mengikuti kelas dan selalu mengeluh saat diberi
tugas. Fokus utama mereka kuliah adalah untuk mendapatkan kerja yang oke. Namun
proses ia jalani dengan sangat tidak oke. Menyontek, sering bolos, hoby copy-paste makalah dan saat diskusi
mereka cenderung suka di belakang dan memilih untuk tidur saja. Ada yang menarik
dari mahasiswa jenis ini, dia sangat tidak suka aktifitas belajar tapi dia
punya mimpi besar untuk bisa mendapatkan pekerjaan dan IP yang luar biasa.
Tinggal pertanyaannya, emang bisa?
Jenis
mahasiswa ketiga adalah mahasiswa
aktivis. Bisa dikatakan mahasiswa ini adalah mahasiswa yang paling tidak
punya waktu untuk main dan mereka sangat sibuk. Aktifitas kesehariannya selain
kelas adalah rapat, mengadakan acara, kumpul dengan komunitasnya dan banyak
lagi. Biasanya dia paling vokal saat di kelas. Paling aktif saat di kelas dan
saat diskusi sering mengajukan pertanyaan yang bersifat analitis. Mereka
mencoba menghubungkan ilmu yang di dapat di luar kelas untuk dikaitkan dengan
ilmu di mata kuliah tertentu. Tapi lagi-lagi tidak semua mahasiswa aktifis
seperti ini.
Jika
berbicara mengenai mahasiswa aktifis
maka tidak akan ada habisnya. Bagi mereka tanggal merah dan hari libur its nothing. Pulang sore apalagi pulang
siang juga its nothing. Setelah kelas
biasanya mereka langsung on the way
ke sekret organisasi mereka. Ya, mereka seolah terlihat sangat sibuk sekali.
Itulah
beberapa jenis mahasiswa yang dapat dipaparkan. Karena pada jenis mahasiswa
aktivis masih banyak yang belum dikupas, maka pada tulisan ini akan difokuskan
pada jenis mahasiswa aktivis tersebut.
Sebelum
melangkah ke yang lebih jauh mengenai mahasiswa aktifis. Perlu kita ketahui
siapa sih sebenarnya mahasiswa aktifis itu? Mahasiswa aktivis adalah mahasiswa
yang selain kuliah, mereka juga bergabung secara aktif dalam organisasi.
Organisasi yang dimaksud di sini tidak hanya organisasi intra, melainkan juga
extra kampus.
Lalu
bagaimana aktifitas seorang aktivis? Baik saat di kampus maupun saat di luar
kampus. Baik saat di dunia nyata maupun
di dunia maya. Tidak bisa dipungkiri, setiap tindakan aitivis akan
selalu jadi sorotan. Di manapun itu. Misalkan dalam sebuah kelas ada aktivis
yang penampilannya awut-awutan, dan kebetulan dia mengikuti organisasi yang
ber-background seni. Maka mahasiswa
lain akan menganggap bahwa mahasiswa yang berpenampilan seperti itu pasti
mengikuti oranisasi seni tersebut. Contoh lain, seorang mahasiswa yang
mengikuti organisasi sosial misalkan peduli anak jalanan. Maka dalam setiap
postingan di media sosialnya ia akan selalu mengangkat tema mengenai dunia anak
jalanan.
Kesimpulan
penjelasan di paragraf atas dapat dikatakan bahwa apa yang aktivis dapatkan
saat di organisasi maka cenderung akan ia bawa dan akan dipropagandakan kepada
khalayak umum. Baik secara langsung
maupun tidak secara langsung. Adapun caranya di sini juga sangat beragam.
Mahasiswa
aktivis mempunyai banyak karakterisitik. Baik yang positif maupun negatif.
Namun memang tidak semua karakteristik yang akan dipaparkan di bawah ini
dimiliki oleh seorang mahasiswa aktivis. Namun bisa dipastikan mayoritas dari
mereka mempunyai karakteristik ini:
1.
Pandai berbicara. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa
mahasiswa aktivis lebih vokal daripada mahasiswa yang buakn aktivis. Hal ini
adalah sesuatu yang wajar karena di luar sana pasti mereka lebih dituntut untuk
bisa berbicara dan mengemukakan pendapat. Hal ini juga merupakan salah satu
keuntungan dari berorganisasi, yakni dilatih untuk bisa berbicara di depan
umum. Adapun harapan dari sisi ini adalah ia mampu menyampaikan apa-apa yang
telah dikajinya bersama organisasi.
2.
Punya banyak jaringan. Biasanya mahasiswa aktivis
sangat suka mengikuti berbagai acara atau agenda. Dan dari sinilah ia akan
mendapatkan banyak teman baru dan kemudian akan dijadikan sebagai jaringan,
ntah dalam bisnis, penyebaran informasi dan opini organisasinya, dan masih
banyak lagi. Jadi jangan heran jika mahasiswa aktivis kontak di handphonenya
sangat banyak. Karena memang kenalan dia sangat banyak dan beragam.
3.
Gaya bicaranya advertise-able.
Mahasiswa aktivis gaya bicaranya penuh dengan makna tersembunyi. Hampir setiap
perkataannya mengandung makna tertentu. Dan jangan ditanya lagi makna tersebut
pasti menjurus pada ajakannya agar orang lain bisa mengikuti organisasinya, yah
minimal menerima opini dan informasi yang organisasi sebar. Sanking pinternya
ngajakin orang, mahasiswa yang mendapatkan mata kuliah marketingpun pasti akan kalah. Hal ini memang perlu karena tugas
seorang mahasiswa aktivis salah satu yang seharusnya adalah membesarkan
organisasinya. Minimal membuat apa yang dibawa organisasi akan mudah diterima
oleh semua orang. Jadi di sini dipelukan bahasa atau gaya bicara yang sangat
bersifat ngiklan.
4.
Membedakan teman. Ini adalah karakteristik yang ada
pada mahsiswa aktivis yang seharusnya dihapus dan dibuang jauh-jauh oleh
mereka. Beberapa mahasiswa aktivis karena sanking sibuknya akhirnya mereka
berinteraksi hanya dengan orang-orang yang ada di organisasinya saja. Hal ini
tidak bisa dipungkiri karena setelah jam kuliah selesai mereka langsung on
the way ke sekret organisasinya. Sehingga pembicaraan dengan teman sekelas
hanya berkutat pada materi kuliah saja. Tidak sampai pada tataran untuk
menanyakan kabar, asal kamu dari mana, hobby kamu apa dan berbagai
pertanyaan atau pembicaran yang mengarah pada biar saling dekat dan saling
kenal lebih jauh. Mereka saat di kelas cenderung tidak punya teman, tidak lain
karena kurangnya interaksi mereka dengan teman sekelas. Sebaliknya, mereka
lebih banyak punya teman di luar kelasnya. Padahal jika difikir teman kelas
adalah lingkup terdekat dan akan berpotensi untuk disebarkan informasi dan
opini yang organisasinya bawa. Mengapa demikian? Karena teman kelas adalah teman yang setiap hari
akan ditemui dan pasti akan berpotensi mengerjakan tugas bersama. Jika
kedekatan non akademis tidak dibangun maka akan menyulitkan akademis mereka
sendiri.
5.
Tipe mahasiswa aktivis salah fokus. Ada beberapa
mahasiswa yang tujuan ikut organisasi bukan untuk mengikuti orangisasi secara legowo. Melainan mereka memiliki tujuan
lain dalam bergabungnya dia ke organisasi. Dari yang paling wajar karena Cuma
ikutan dan dari pada nganggur, sampai pada tataran biar dapet jodoh. Yah tidak
bisa dikhianati memang banyak sekali aktivis yang kurang berperan maksimal di
organisasinya, bisa jadi karena mereka telah salah fokus saat pertama kali bergabung
dengan organisasinya. Karakteristik ini juga harus dibuang jauh-jauh. Jika
masih tumbuh, segera padamkan dan matikan dengan menata niat kembali. [1]
Itulah
beberapa karakteristik sosok mahasiswa aktivis. Barang kali masih banyak
karakteristik yang lain, namun kelima karakterisitk di atas insya Allah sudah
bisa mewakili, kira-kira bagaimana sih mahasiswa aktivis itu?
Menjadi
mahasiswa aktivis bukanlah perkara yang mudah. Mengingat saat ini kehidupan
kampus sangat sibuk. Tugas banyak, jadwal kuliah yang sering berubah-ubah, birokrasi yang mengekang dan terlalu
menuntut, serta doktrin bahwa fokus kuliah
hanya meraih IP yang tinggi saja. Dari sini maka mahasiswa aktivis harus bisa
membagi waktu dan membagi fikiran. Mereka harus pintar dalam mengalokasikan
setiap waktunya, mereka harus paham mana yang harus difikirkan saat ini, bisa
besok dan bisa minggu depan.
Dengan
adanya berbagai tantangan tersebut, jika mahasiswa aktivis telah mendedikasikan
waktu dan hidupnya untuk organisasinya, maka semuanya akan terasa menyenangkan
dan tanpa beban. Sebaliknya, jika belum bisa berikrar untuk mendedikasikan
seluruh waktu dan hidupnya untuk oraganisasi maka akan cenderung pada membawa
dirinya pada berbagai tekanan dan tuntutan.
Pemaknaan
dedikasi ini adalah berdedikasi pada apa yang organisasi emban. Bukan makna
organisasi secara utuh.
Alangkah
baiknya sebagai mahasiswa yang sudah memiliki taraf berfikir lebih kompleks
daripada anak SMA maka seharusnya organisasi yang diikuti adalah organisasi
yang akan membawa kebermanfaatan bagi dirinya, baik di masa sekarang dan di
masa mendatang. Mendatang tidak hanya pada tataran dunia melainkan juga tataran
akhirta. Karena perlu disadari kembali kita sebagai makhluk Allah yang
mengimani kebenaran Al-Quran harus senantiasa beribadah kepada-Nya. Hal ini
sesuai dengan firmanNya dalam QS. Adz-Dzariyat:56, yakni Allah tidak lain
menciptakan manusia dan jin hanya untuk beribadah kepadaNya. Jadi apapun
aktifitas yang dilakukan manusia harus ada unsur untuk beribadah kepada Allah.
Kebermanfaatan
itu tidak hanya untuk diri sendiri. Tapi juga untuk orang lain. Apa yang
organisasi kita emban harus memiliki dampak bagi orang lain. Dampak tentu harus
hal-hal yang positif dan dampak itu harus yang bersifat kuratif dan preventif.
Wallahu’alam.
Semoga yang sedikit ini dapat membawa manfaat bagi pembaca.
Bukan
maksud diri sok benar sendiri, diri hanya ingin berbagi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar