Kamis, 12 Maret 2015

VIRUS SEPILIS MULAI MENGHANTAM MUSLIM INDONESIA

Indonesia adalah negeri khatulistiwa. Negeri yang sangat kaya akan segala hal, mulai tambang, perkebunan, lautan hingga penduduk yang sangat banyak. Apalagi, penduduk Indonesia yang mencapai ratusan ribu juta jiwa itu kebanyakan adalah dari golongan usia produktif. Dari jutaan penduduk itu maka Indonesia sangat berpeluang menjadi sebuah negeri yang sangat maju. Syaratnya, semua penduduk harus benar-benar mau berkarya. Berkarya disini bukan sekedar berkarya yang beroientasikan dunia saja, melainkan juga untuk akhirat. Karena allah SWT telah berfirman :
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”(Qs. Al-A’raf: 96)
Sedang sekarang kita mengetahui Indonesia seolah menjelma menjadi sebuah negeri yang sangat jauh dari penilaian beriman dan bertakwa kepada Allah. Lantas,bisakah Indonesia menjad negeri yang maju jika penduduknya saja enggan beriman dan bertakwa kepada Allah. Jangankan hal berat semisal hukum potong tangan terhadap orang yang mencuri, sholat yang merupakan dasar pada agama Islam saja dengan mudahnya ditinggalkan oleh penduduknya. Astaghfirullah.
Dan kini Indonesia telah mencapai usia 69 tahun ketika awal tahun 2015 ini. Sebagai seorang mukmin yang baik tentu kita harus terus flashback untuk memperbaiki masa lalu kita. Tidak hanya kita dalam artian individu belaka, melainkan juga untuk negeri kita tercinta ini  ; Indonesia Raya.
Tahun 2014 kemarin oleh negeri Indonesia diakhiri dengan beberapa perayaan pada bulan Desember. Mulai dari tepat tanggal 25 Desember, dimana seluruh manusia pasti hampir semua tahu. Pada hari itulah umat Nasrani meyakini bahwa Isa Al Masih diangkat menjadi Tuhan. Dengan anggapan dasar seperti itu, pada tanggal itupun umat Nasrani menjadikan tanggal 25 Desember sebagai hari raya ummatnya. Sebuah hari raya yang sarat akan pemahaman-pemahaman membahayakan bagi ummat lain, khususnya Islam.
Di Indonesia sendiri sangat banyak ummat muslim yang salah kaprah dalam menganggapi hari raya Natal di tanggal 25 Desember tersebut. Berlindung pada paham "toleransi" atau saling menghormati, mereka dengan seenaknya mengucapkan selamat Natal, bahkan turut serta dalam perayaannya. Perayaan disini bukan sekedar layaknya ketika ummat muslim merayakan hari raya Idul Fitri (dengan bersilaturahim, makan bersama, dll), namun justru mereka dengan bangga mengenakan simbol-simbol ummat Nasrani. Seperti misalnya banyak pegawai pemerintahan yang seolah dengan gagahnya mengenakan pakaian ala Santa Claus kala berdinas. Padahal sudah jelas, Nabi SAW pernah bersabda :
"Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka." (HR. Abu Dawud)

Atas nama bakti sebagai pegawai pada atasan, mereka dengan gampangnya luluh seperti itu. Tidak paham dengan konsep toleransi yang sebenarnya menurut Islam. Mereka menggadaikan aqidah dengan pekerjaan yang mereka miliki. Padahal sudahlah jelas, rizqi minallah, bukan dari para atasan di perusahaan masing-masing. Sesungguhnya para atasan di perusahaan hanyalah wasilah bagi kita agar mendapatkan rizqi, selebihnya rizqi itu minallah.

Allah berfirman :
“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tidada disangka-sangkanya.” (At Thalaq 2-3)
Dari ayat di atas kita bisa tahu bahwa Allahakan mencukupkan rizqi manusia kala manusia mencari rizqi yang sesuai syariatNya. Toh, standar kecukupan kita yang sebenarnya bukanlah seberapa banyak harta yang kita miliki, melainkan tentang bagaimana kita mampu mensyukuri setiap apa-apa yang Allah berikan untuk kita. Tentang bagaimana kita mampu terus ikhtiar dan lalu menyerahkan semuanya kepada Allah, berharap hanya pada rizqi yang datang atas ridhoNya, bukan dari yang lain.
Lalu pada salahnya paham toleransi ummat saat ini, muncul dikarenakan beberapa sebab. Mulai dari ketidakmauan ummat mempelajari hal ini atau ungkin memang mereka belum mempelajarinya sama sekali sehingga ketidaktahuan masih menjangkit ummat. Lalu juga karena bagaimana peran pemerintah saat ini yang seolah dengan mudahnya menjerumuskan rekyat pada kesalahan pemahaman yang dapat mengkikis aqidah. Ini ditambah dengan peran beberapa Ustadz atau tokoh agama yang mengatakan "tidak masalah dalam hal sekedar mengucapkan selamat natal, tidak masalah hanya sekedar berpakaian ala Santa Claus, dan tidak masalah hanya sekedar turut merayakan, intinya yang penting tidak pindah agama dan tetap berpendapat bahwa Tuhan itu hanyalah Allah SWT saja. Berbagai pernyataan ini sangat salah besar. Ini benar-benar jauh dari nilai-nilai Islam. Dan inilah, bukti merebaknya virus pluralisme.

Seolah meyakini seluruh agama yang ada di dunia, khususnya Indonesia ada benar.Padahal, toleransi dalam Islam sudah dijelaskan dengan sangat gamblang dan jelas oleh Allah dan RasulNya. Patokan terdasar adalah dalam Qs. Al-Kafirun ayat 1-6. Dalam ayat ke 6 Allah berfirman "bagiku agamaku dan bagimu agamamu". Yang namanya bagiku agamaku, maka semua syariat Islam mulai dari yang mencakup habluminallah, habluminannas dan hambluminafsi adalah bagi kita (ummat muslim). Lalu bagimu agamamu, adalah apa-apa yang selain dari agama kita (Islam), maka sudah sepantasnyalah kita tidak mengambilnya. Bukankah Islam diturunkan sudah dengan sempurna? Lalu mengapa kita masih mengambil hukum dari selain Islam?
***
Di tahun 2014 kemarin juga Indonesia menutup lembaran dengan berbagai permasalahan rakyat yang sangat mencekik. Dan perlu diketahui itu semua ada karena Indonesia tidak mau menerapkan hukum dari Sang Maha Kuasa yakni Allah SWT.
Dari persoalan ekonomi yang terus menyusahkan rakyat. Mulai dari kebijakan kenaikan BBM oleh Jokowi pada masa jabatannya di bulan November 2014 lalu yang dari hal itu sangat menyeret pada persoalan ketidakstabilan ekonomi di Indonesia.karena semenjak Jokowi menaikkan harga BBM tersebut naiklah seluruh harga-harga produk dan barang di pasaran. Mulai dari tarif angkot, harga sembako hingga tarif berbagai jasa di Indonesia juga mengalami kenaikan. Sungguh sangat luar biasa dari dampak dinaikkannya harga BBM oleh presiden Jokowi ini.
Yang sangat memprihatinkan adalah saat Jokowi menaikkan harga BBM padahal saat itu harga minyak di dunia sedang turun. Lantas karena apa kiranya presiden kita saat itu menaikkkan harga BBM? jawabannya singkat saja, jika bukan karena tunduknya rezim Jokowi kepada paham kapitalisme, maka apa lagi ?
Kapitalisme, sebuah paham yang segalanya di ukur akan materialistis. Segala hal akan diambil toh meskipun itu dampaknya sangat buruk untuk orang lain, namun jika hal itu mampu mendatangkan pundi-pundi uang maka pastilah akan diambil.
Indonesia sebagai Negara dengan penduduk muslim terbesar di dunian sudah sangat terjangkit penyakit ini sejak lama. Dan puncaknya adalah saat tahun 2014 hingga 2015 yang mungkin akan terus berlanjut jika Indonesia tidak segera mengambil hukum yang Allah tetapkan untuk mengatur Negara ini. Mulai dari masyrakat kecil hingga tingkat pemerintahan tidak ketinggalan ikut-ikut budaya barat bernama Kapitalisme ini.
Dari golongan masyarakat kecil, seolah budaya tolong menolong sudah luntur di negeri ini. Seseorang enggan menolong orang lain ketika hal tersebut tidak mau mendatangkan uang. Toh walau masih ada yang berlaku dengan legowonya mereka melakukan hal tersebut, tapi, itu sangatlah sedikit.
Sedang jika dari golongan pemerintah, banyak pelaku pemerintahan yang dengan senangnya mengikuti rapat-rapat untuk rakyat. Tapi itu jika mendatangkan uang. Contoh saja bagaimana para wakil dewan kita. Sedang jika rapat untuk mengurusi rakyat dan hal tersebut tidak mendatangkan uang, yah sudah bisa ditebak bagaimana porsentasi kehadiran mereka ?
Dandi negeri Indonesia ini bagaimana kasus terakhir berupa penambahan kontrak untuk perusahan Freeport, yakni sebuah perusahaan yang terus menggali kekayaan alam (tambang) di timur Indonesia sana. Padahal jika kita mau berfiir sejenak, jika kekayaan tambang kita di Timur Indonesia itu kita ambil dan kelola sendiri maka yakinlah seluruh hutang Indonesia yang berjumlah sampai jutaan triliunan itu akan mampu dilunasi pemerintah dengan segera. Namun ntah karena apa, dengan mudahnya pemerintah memberikan kontrak untuk Freeport lagi. Wah. Mungkin inilah yang dinamakan Indonesia sudah sangat terjangkit virus kapitalisme.
Jika Indonesia ingin mejadi negeri yang lebih maju maka tidak seharusnyalah negeri ini terus mengadopsi budaya barat, apalagi budaya barat yang bernama Kapitalisme ini.
***
Setelah kita jabarkan mengenai pluralisme dan kapitalisme yang menjangkit Indonesia. Dari pembahasan itu kita bisa simpulkan bahwa semua itu bisa terjadi karena juga ada virus terbesar yang di adopsi negeri ini dari barat, yakni sekularisme. Sebuah virus yang sangat mematikan. Baik jiwa maupun rohani. Baik untuk tatanan individu maupun untuk tatanan rakyat besar. Virus ini adalah sebuah virus yang memisahkan urusan dunia dengan urusan akhirat.
Dalam Al- Baqoroh ayat 208 Allah SWT berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”
Dari ayat tersebut kita semua sudah bisa melihat. Bahwasannya Allah telah memperintahkan kita berIslam atau melaksanakan Islam secara kaffah (menyeluruh). Maka segala urusan yang ada di bumi dan langit harus di atur oleh Islam. Tidak bisa hanya urusan habluminalllah saja yang di atur oleh Islam (semisal sholat, haji, puasa, sedekah, dll). Atau justru sebaliknya, ntah habluminannas atau habluminafsi saja yang di atur sesuai Islam, melainkan ketiga-tiganya harus sesuai Islam.
Namun sayangnya, di negeri tercinta ini penduduknya justru salah kaprah dalam menganggapi ayat Allah dalam QS. Al Baqoroh tersebut. Seolah Islam hanya ada pada tatanan masjid (tempat beribadah) belaka. Ketika meninggalkan masjid maka sudahlah kebanyakan masyarakat dengan mudahnya merasa tidak diawasi oleh Allah. Padahal sudah jelas bahwa Allah itu Sang Maha Melihat segala sesuatu, ini sejalan dengan firman Allah dalam Q.S Al-Hujurat Ayat 18 :
”Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan bumi. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan”.
Jadi mau di masjid atau di luar masjid Allah akan tetap melihat segala sesuatu yang kita kerjakan. Dan segala sesuatu yang kita kerjakan itu kelak akan dimintai pertanggungjawaban dihadapanNya kelak. Dan sayang sungguh sayang fakta menunjukkan ummat tidak sadar akan hal ini.
***
Sungguh malang nasib Indonesia ini. hampir seluruh masyarakatnya terkena virus sepilis (sekularisme, pluralism dan kapitalisme), ada yang terjangkit ketiga-tiganya dan ada pula yang hanya terjangkit salah satu atau dua dari ketiga virus tersebut. Berapapun jenis virus yang menjangkit ummat maka sama saja semua itu berbahaya. Karena pada dasarnya ketiga pemahaman tersebut bukanlah dari Islam, melainkan dari barat. Yang mana barat adalah musuh nyata bagi muslim saat ini. Bagaimana barat terus berusaha menghancurkan kaum muslim dimanapun berada. Jika di Palestina barat diam saja dengan pembantaian ummat muslim oleh Israel. Lalu begitupun di Suriah, Rohingya, Afrika dan negeri lainnya. Bahwasannya mereka di jajah secara fisik. Berbeda dengan Indonesia yang sifat penjajahannya adalah secara pemikiran. Namun penjajahan secara pemikiran ini justru sangat lebih berbahaya.
Jika penjajahan dilakukan secara fisik maka ummat muslim akan lebih merasakannya dan waspadalah mereka terhadap serangan musuh. Namun jika penjajahan dilakukan melalui pemikiran, kita hanyadengan berleha-leha saja maka sudahlah bisa di jajah. Contoh termudah kita ambil dari tayangan tv di berbagai tv nasional yang  banyak menayangkan tayangan tidak sesuai ajaran Islam. Dari tayangan-tayangan tersebut aqidah kita akan dilunturkan.
Maka sudah sepantasnyalah kita sebagai muslimtidak berperilaku mengadopsi paham sepilis (sekularisme, pluralisme dan kapitalisme) dan sudah sangat jelas itu tidak sesuai Islam. Jika kita mengaku muslim maka kita harus meninggalkan apa-apa yang tidak sesuai dengan Islam. Jika kita muslim maka kiata harus terus berbenah untuk terus memilah-milah pemahaman mana yang sekiranya datang dari Islam dan manayang datang tidak dari selain Islam.
Ummat muslim sudah terlalu lama tidur sehingga dengan mudahnya dibodohkan oleh kaum barat. Sudah sejak tahun 1924 M (saat Kekhalifah-an Utsmani runtuh) kaum muslim terus di injak-injak harga dirinya. Terlebih di Indonesia ini. walau mirisnya terkdang kita tidak merasakannya. Saatnya menjadi muslim cerdas tanpa mencomot Islam se-enaknya dan se-maunya saja. Saatnyalah menjadi muslim yang didambakan kemuliaan Islam di masa depan, yakni muslim yang senantisa menerapkan hukum-hukum yang ada dalam Al-Quran dan As-Sunnah.

Wallahu’alam bishowab.

Tidak ada komentar: