Indonesia adalah negeri khatulistiwa. Negeri yang sangat kaya akan segala hal,
mulai tambang, perkebunan, lautan hingga penduduk yang sangat banyak. Apalagi,
penduduk Indonesia yang mencapai ratusan ribu juta jiwa itu kebanyakan adalah
dari golongan usia produktif. Dari jutaan penduduk itu maka Indonesia sangat
berpeluang menjadi sebuah negeri yang sangat maju. Syaratnya, semua penduduk
harus benar-benar mau berkarya. Berkarya disini bukan sekedar berkarya yang
beroientasikan dunia saja, melainkan juga untuk akhirat. Karena allah SWT telah
berfirman :
“Jikalau sekiranya penduduk
negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan
kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat
Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”(Qs. Al-A’raf: 96)
Sedang
sekarang kita mengetahui Indonesia seolah menjelma menjadi sebuah negeri yang
sangat jauh dari penilaian beriman dan bertakwa kepada Allah. Lantas,bisakah
Indonesia menjad negeri yang maju jika penduduknya saja enggan beriman dan
bertakwa kepada Allah. Jangankan hal berat semisal hukum potong tangan terhadap
orang yang mencuri, sholat yang merupakan dasar pada agama Islam saja dengan
mudahnya ditinggalkan oleh penduduknya. Astaghfirullah.
Dan
kini Indonesia telah mencapai usia 69 tahun ketika awal tahun 2015 ini. Sebagai
seorang mukmin yang baik tentu kita harus terus flashback untuk memperbaiki
masa lalu kita. Tidak hanya kita dalam artian individu belaka, melainkan juga
untuk negeri kita tercinta ini ;
Indonesia Raya.
Tahun
2014 kemarin oleh negeri Indonesia diakhiri dengan beberapa perayaan pada bulan
Desember. Mulai dari tepat tanggal 25 Desember, dimana seluruh manusia pasti
hampir semua tahu. Pada hari itulah umat Nasrani meyakini bahwa Isa Al Masih
diangkat menjadi Tuhan. Dengan anggapan dasar seperti itu, pada tanggal itupun
umat Nasrani menjadikan tanggal 25 Desember sebagai hari raya ummatnya. Sebuah
hari raya yang sarat akan pemahaman-pemahaman membahayakan bagi ummat lain,
khususnya Islam.
Di
Indonesia sendiri sangat banyak ummat muslim yang salah kaprah dalam
menganggapi hari raya Natal di tanggal 25 Desember tersebut. Berlindung pada
paham "toleransi" atau
saling menghormati, mereka dengan seenaknya mengucapkan selamat Natal, bahkan
turut serta dalam perayaannya. Perayaan disini bukan sekedar layaknya ketika
ummat muslim merayakan hari raya Idul
Fitri (dengan bersilaturahim, makan bersama, dll), namun justru mereka
dengan bangga mengenakan simbol-simbol ummat Nasrani. Seperti misalnya banyak
pegawai pemerintahan yang seolah dengan gagahnya mengenakan pakaian ala Santa Claus kala berdinas. Padahal sudah
jelas, Nabi SAW pernah bersabda :
"Barangsiapa
menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka." (HR. Abu Dawud)
Atas
nama bakti sebagai pegawai pada atasan, mereka dengan gampangnya luluh seperti
itu. Tidak paham dengan konsep toleransi yang sebenarnya menurut Islam. Mereka
menggadaikan aqidah dengan pekerjaan yang mereka miliki. Padahal sudahlah
jelas, rizqi minallah, bukan dari para atasan di perusahaan masing-masing.
Sesungguhnya para atasan di perusahaan hanyalah wasilah bagi kita agar
mendapatkan rizqi, selebihnya rizqi itu minallah.
Allah berfirman :
Allah berfirman :
“Barangsiapa
yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar.
Dan memberinya rezki dari arah yang tidada disangka-sangkanya.” (At Thalaq 2-3)
Dari
ayat di atas kita bisa tahu bahwa Allahakan mencukupkan rizqi manusia kala
manusia mencari rizqi yang sesuai syariatNya. Toh, standar kecukupan kita yang
sebenarnya bukanlah seberapa banyak harta yang kita miliki, melainkan tentang
bagaimana kita mampu mensyukuri setiap apa-apa yang Allah berikan untuk kita.
Tentang bagaimana kita mampu terus ikhtiar dan lalu menyerahkan semuanya kepada
Allah, berharap hanya pada rizqi yang datang atas ridhoNya, bukan dari yang
lain.
Lalu
pada salahnya paham toleransi ummat saat ini, muncul dikarenakan beberapa
sebab. Mulai dari ketidakmauan ummat mempelajari hal ini atau ungkin memang
mereka belum mempelajarinya sama sekali sehingga ketidaktahuan masih menjangkit
ummat. Lalu juga karena bagaimana peran pemerintah saat ini yang seolah dengan
mudahnya menjerumuskan rekyat pada kesalahan pemahaman yang dapat mengkikis
aqidah. Ini ditambah dengan peran beberapa Ustadz atau tokoh agama yang
mengatakan "tidak masalah dalam hal sekedar mengucapkan selamat natal,
tidak masalah hanya sekedar berpakaian ala Santa
Claus, dan tidak masalah hanya sekedar turut merayakan, intinya yang
penting tidak pindah agama dan tetap berpendapat bahwa Tuhan itu hanyalah Allah
SWT saja. Berbagai pernyataan ini sangat salah besar. Ini benar-benar jauh dari
nilai-nilai Islam. Dan inilah, bukti merebaknya virus pluralisme.
Seolah meyakini seluruh agama yang ada di dunia, khususnya Indonesia ada benar.Padahal, toleransi dalam Islam sudah dijelaskan dengan sangat gamblang dan jelas oleh Allah dan RasulNya. Patokan terdasar adalah dalam Qs. Al-Kafirun ayat 1-6. Dalam ayat ke 6 Allah berfirman "bagiku agamaku dan bagimu agamamu". Yang namanya bagiku agamaku, maka semua syariat Islam mulai dari yang mencakup habluminallah, habluminannas dan hambluminafsi adalah bagi kita (ummat muslim). Lalu bagimu agamamu, adalah apa-apa yang selain dari agama kita (Islam), maka sudah sepantasnyalah kita tidak mengambilnya. Bukankah Islam diturunkan sudah dengan sempurna? Lalu mengapa kita masih mengambil hukum dari selain Islam?
***
Di
tahun 2014 kemarin juga Indonesia menutup lembaran dengan berbagai permasalahan
rakyat yang sangat mencekik. Dan perlu diketahui itu semua ada karena Indonesia
tidak mau menerapkan hukum dari Sang Maha Kuasa yakni Allah SWT.
Dari
persoalan ekonomi yang terus menyusahkan rakyat. Mulai dari kebijakan kenaikan
BBM oleh Jokowi pada masa jabatannya di bulan November 2014 lalu yang dari hal
itu sangat menyeret pada persoalan ketidakstabilan ekonomi di Indonesia.karena
semenjak Jokowi menaikkan harga BBM tersebut naiklah seluruh harga-harga produk
dan barang di pasaran. Mulai dari tarif angkot, harga sembako hingga tarif berbagai
jasa di Indonesia juga mengalami kenaikan. Sungguh sangat luar biasa dari
dampak dinaikkannya harga BBM oleh presiden Jokowi ini.
Yang
sangat memprihatinkan adalah saat Jokowi menaikkan harga BBM padahal saat itu
harga minyak di dunia sedang turun. Lantas karena apa kiranya presiden kita saat
itu menaikkkan harga BBM? jawabannya singkat saja, jika bukan karena tunduknya
rezim Jokowi kepada paham kapitalisme, maka apa lagi ?
Kapitalisme,
sebuah paham yang segalanya di ukur akan materialistis. Segala hal akan diambil
toh meskipun itu dampaknya sangat buruk untuk orang lain, namun jika hal itu
mampu mendatangkan pundi-pundi uang maka pastilah akan diambil.
Indonesia
sebagai Negara dengan penduduk muslim terbesar di dunian sudah sangat
terjangkit penyakit ini sejak lama. Dan puncaknya adalah saat tahun 2014 hingga
2015 yang mungkin akan terus berlanjut jika Indonesia tidak segera mengambil hukum
yang Allah tetapkan untuk mengatur Negara ini. Mulai dari masyrakat kecil
hingga tingkat pemerintahan tidak ketinggalan ikut-ikut budaya barat bernama
Kapitalisme ini.
Dari
golongan masyarakat kecil, seolah budaya tolong menolong sudah luntur di negeri
ini. Seseorang enggan menolong orang lain ketika hal tersebut tidak mau
mendatangkan uang. Toh walau masih ada yang berlaku dengan legowonya mereka melakukan hal tersebut, tapi, itu sangatlah
sedikit.
Sedang
jika dari golongan pemerintah, banyak pelaku pemerintahan yang dengan senangnya
mengikuti rapat-rapat untuk rakyat. Tapi itu jika mendatangkan uang. Contoh
saja bagaimana para wakil dewan kita. Sedang jika rapat untuk mengurusi rakyat
dan hal tersebut tidak mendatangkan uang, yah sudah bisa ditebak bagaimana
porsentasi kehadiran mereka ?
Dandi
negeri Indonesia ini bagaimana kasus terakhir berupa penambahan kontrak untuk
perusahan Freeport, yakni sebuah perusahaan yang terus menggali kekayaan alam
(tambang) di timur Indonesia sana. Padahal jika kita mau berfiir sejenak, jika
kekayaan tambang kita di Timur Indonesia itu kita ambil dan kelola sendiri maka
yakinlah seluruh hutang Indonesia yang berjumlah sampai jutaan triliunan itu
akan mampu dilunasi pemerintah dengan segera. Namun ntah karena apa, dengan
mudahnya pemerintah memberikan kontrak untuk Freeport lagi. Wah. Mungkin inilah
yang dinamakan Indonesia sudah sangat terjangkit virus kapitalisme.
Jika
Indonesia ingin mejadi negeri yang lebih maju maka tidak seharusnyalah negeri
ini terus mengadopsi budaya barat, apalagi budaya barat yang bernama
Kapitalisme ini.
***
Setelah
kita jabarkan mengenai pluralisme dan kapitalisme yang menjangkit Indonesia.
Dari pembahasan itu kita bisa simpulkan bahwa semua itu bisa terjadi karena
juga ada virus terbesar yang di adopsi negeri ini dari barat, yakni sekularisme.
Sebuah virus yang sangat mematikan. Baik jiwa maupun rohani. Baik untuk tatanan
individu maupun untuk tatanan rakyat besar. Virus ini adalah sebuah virus yang
memisahkan urusan dunia dengan urusan akhirat.
Dalam
Al- Baqoroh ayat 208 Allah SWT berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah
kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah
syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”
Dari
ayat tersebut kita semua sudah bisa melihat. Bahwasannya Allah telah
memperintahkan kita berIslam atau melaksanakan Islam secara kaffah
(menyeluruh). Maka segala urusan yang ada di bumi dan langit harus di atur oleh
Islam. Tidak bisa hanya urusan habluminalllah
saja yang di atur oleh Islam (semisal sholat, haji, puasa, sedekah, dll). Atau
justru sebaliknya, ntah habluminannas
atau habluminafsi saja yang di atur
sesuai Islam, melainkan ketiga-tiganya harus sesuai Islam.
Namun
sayangnya, di negeri tercinta ini penduduknya justru salah kaprah dalam
menganggapi ayat Allah dalam QS. Al Baqoroh tersebut. Seolah Islam hanya ada
pada tatanan masjid (tempat beribadah) belaka. Ketika meninggalkan masjid maka
sudahlah kebanyakan masyarakat dengan mudahnya merasa tidak diawasi oleh Allah.
Padahal sudah jelas bahwa Allah itu Sang Maha Melihat segala sesuatu, ini
sejalan dengan firman Allah dalam Q.S Al-Hujurat Ayat 18 :
”Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang
ghaib di langit dan bumi. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan”.
Jadi
mau di masjid atau di luar masjid Allah akan tetap melihat segala sesuatu yang
kita kerjakan. Dan segala sesuatu yang kita kerjakan itu kelak akan dimintai
pertanggungjawaban dihadapanNya kelak. Dan sayang sungguh sayang fakta
menunjukkan ummat tidak sadar akan hal ini.
***
Sungguh
malang nasib Indonesia ini. hampir seluruh masyarakatnya terkena virus sepilis
(sekularisme, pluralism dan kapitalisme), ada yang terjangkit ketiga-tiganya
dan ada pula yang hanya terjangkit salah satu atau dua dari ketiga virus
tersebut. Berapapun jenis virus yang menjangkit ummat maka sama saja semua itu
berbahaya. Karena pada dasarnya ketiga pemahaman tersebut bukanlah dari Islam,
melainkan dari barat. Yang mana barat adalah musuh nyata bagi muslim saat ini.
Bagaimana barat terus berusaha menghancurkan kaum muslim dimanapun berada. Jika
di Palestina barat diam saja dengan pembantaian ummat muslim oleh Israel. Lalu
begitupun di Suriah, Rohingya, Afrika dan negeri lainnya. Bahwasannya mereka di
jajah secara fisik. Berbeda dengan Indonesia yang sifat penjajahannya adalah
secara pemikiran. Namun penjajahan secara pemikiran ini justru sangat lebih
berbahaya.
Jika
penjajahan dilakukan secara fisik maka ummat muslim akan lebih merasakannya dan
waspadalah mereka terhadap serangan musuh. Namun jika penjajahan dilakukan
melalui pemikiran, kita hanyadengan berleha-leha saja maka sudahlah bisa di jajah.
Contoh termudah kita ambil dari tayangan tv di berbagai tv nasional yang banyak menayangkan tayangan tidak sesuai
ajaran Islam. Dari tayangan-tayangan tersebut aqidah kita akan dilunturkan.
Maka
sudah sepantasnyalah kita sebagai muslimtidak berperilaku mengadopsi paham sepilis
(sekularisme, pluralisme dan kapitalisme) dan sudah sangat jelas itu tidak
sesuai Islam. Jika kita mengaku muslim maka kita harus meninggalkan apa-apa
yang tidak sesuai dengan Islam. Jika kita muslim maka kiata harus terus
berbenah untuk terus memilah-milah pemahaman mana yang sekiranya datang dari Islam
dan manayang datang tidak dari selain Islam.
Ummat
muslim sudah terlalu lama tidur sehingga dengan mudahnya dibodohkan oleh kaum
barat. Sudah sejak tahun 1924 M (saat Kekhalifah-an Utsmani runtuh) kaum muslim
terus di injak-injak harga dirinya. Terlebih di Indonesia ini. walau mirisnya
terkdang kita tidak merasakannya. Saatnya menjadi muslim cerdas tanpa mencomot
Islam se-enaknya dan se-maunya saja. Saatnyalah menjadi muslim yang didambakan
kemuliaan Islam di masa depan, yakni muslim yang senantisa menerapkan hukum-hukum
yang ada dalam Al-Quran dan As-Sunnah.
Wallahu’alam bishowab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar