Rabu, 18 Februari 2015

Pandangan Mu'adz bin Jabal Tentang Ilmu

Mu'adz bin Jabal adalah salah seorang sahabat Rasulullah yang masih sangat muda. Ia masuk Islam dalam usia kurang dari 20 tahun. Dan ketika Rasulullah menghadap ke hadirat Allah SWT, Mu'adz berusia 31 tahun.

Mu'adz bin Jabal juga merupakan salah satu sahabat yang paling di sukai oleh Rasulullah. Suatu ketika beliau memegang tangan Mu'adz dan bersabda "Hai Mu'adz, demi Allah, aku benar-benar menyukaimu". Lalu Mu'adz berkata kepada Rasulullah "Sungguh, ya Rasulullah, demi Allah, aku benar-benar menyukaimu". Nabi bersabda "Aku berpesan kepadamu, setiap sholat jangan sekali-kali kamu meninggalkan do'a :
"Ya Allah, berilah pertolongan untuk mengingatMu, bersyukur kepadaMu dan beribadah kepadaMu dengan baik"
Kecintaan Mu'adz terhadap ilmu menghantarkannya pada kedudukan yang mulia di mata Allah dan Rasulnya. Mu'adz bin Jabal pernah mengatakan pendapatnya tentang ilmu, yakni :

"Pelajarilah ilmu, karena mempelajari ilmu adalah (bukti adanya) rasa takut (kepada Allah SWT), menuntut ilmu adalah ibadah, mendiskusikan ilmu adalah tasbih, mencari ilmu adalah jihad, mengajarkan ilmu kepada orang yang belum tahu adalah sedekah, dan berbagi ilmu dengan keluarga adalah upada mendekatkan diri kepada Allah. Hal itu dikarenakan ilmu adalah rambu-rambu halal dan haram, mercusuar dan jalan bagi penghuni surga, teman di kala sepi, sahabat di tempat yang asing, lawan bicara di kala sendiri, penunjuk jalan di kala suka dan duka, senjata untuk menghadapi musuh dan perhiasan di mata kawan. Dengan ilmulah Allah mengangkat derajak banyak orang dan menjadikan mereka sebagai komandan dan pemimpin dalam kebajikan. Mereka dido'akan oleh setiap benda yang basa maupun yang kering, termasuk ikan-ikan di lautan, serangga, binatang buas dan binatang ternak. Memikirkan ilmu setara dengan puasa dan mengkajinya sebanding dengan shalat malam. Dengan ilmu tali persaudaraan bisa dijalin dengan baik dan halal-haram bisa diketahui. Ilmu adalah pemimpin amal. Amal adalah pengikut ilmu. Ilmu dianugerahkan kepada orang-orang yang bahagia hidupnya dan tidak diberikan kepada orang-orang yang sengsara".

Suatu ketika Mu'adz juga pernah mengingatkantentang konskuensi dan tanggung jawab yang harus dipikul oleh orang-orang yang berilmu. Muadz mengatakan, "Pelajarilah ilmu apa saja yang ingin kau pelajari. Akan tetapi Allah tidak akan memberikan manfaat apapun kepadamu sebelum kamu mengamalkan ilmu yang telah kamu miliki".
Ibnu Abdil Barr meriwayatkan dalam kitabnya, Jami'ul Ilmi, bahwasannya Muadz berkata, "Kedua telapak kaki seseorang tidak akan bergeser pada hari kiamat kelak sebelum ditanya tentang tubuhnya untuk apa ia menggunakannya, tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang hartanya dari mana ia mendapatkannya dan kemana ia membelanjakannya, dan tentang ilmunya bagaimana ia mengamalkannya".
***

Masya Allah, itulah arti indah dan urgentnya ilmu menurut sahabat yang sangat dicintai Rasulullah, Mu'adz bin Jabal.
Semoga kita senantiasa menjadi pribadi yang selalu haus akan ilmu. Aamiin.

Wallahu alam bisshowab.

[diambil dari buku berjudul Pemuda-Pemuda di Sekitar Nabi, dengan tambahan]


Tidak ada komentar: