Assalamu'alaikum Wr Wb
Kaifa haluk temen-temen
semua?. gimana kabar juga untuk UKK nya (yg masih sekolah) ?. Semoga
kita senantiasa dalam naungan rahmat dan hidayahNya yaa. Aamiin.
Rasa-rasanya
lama sekalii saya ngga mosting artikel, hehe. Ditulisan kali ini, saya
akan sedikit membahas tentang pendidikan dalam Islam, yakni pendidikan
yang sangat mulia (ngga ada yg bisa ngalahin deh). Kan itung-itung cocok
banget sama moment di bulan Juni ini, hehe musim UKK gitu. Ehh,
nyambung ngga sih?. Ahh ntahlah, nyambung ngga nyambung dibuat nyambung
aja hehe. Oke, mari kita mulai, lets go !
Islam adalah
agama yang sempurna. Islam mengatur kita dalam segala aspek kehidupan.
Mulai dari makan, minum, interaksi, bisnis or dagang, sampai
pemerintahan juga termasuk pendidikan.
Islam mengatur
kita mulai dari kita bangun tidur hingga kita tidur lagi. Jadi intinya
tidak ada satu detikpun kita ngga diatur sama Islam. Keren kan? | Pasti
dong !. Sanking sempurnanya agama Islam, sampai-sampai Islam juga ngatur
tentang pendidikan lhoo (tau lah, kan di atas udah disebutin, hehe).
Kita bisa pahamkan, betapa pendidikan adalah sangat vital keberadaannya.
Sampai-sampai Rasulullah-pun sangat memperhatikan hal ini. Misal
seperti yang ada pada pembebasan tawanan perang di Perang Badar. Yakni
Rasulullah menetapkan tebusan bagi tawanan Perang Badar dengan mengajar
membaca 10 anak Muslim. Lalu kita juga bisa bandingkan, gimana tingkah
laku seorang yang berpendidikan dan ngga berpendidikan.
Pasti
beda banget kan?. Ini sejalan dengan Firman Allah SWT dalam QS. Az-Zumar
: 9, yang artinya "...Adakah sama antara orang-orang yang mengetahui
dengan orang-orang yang tidak mengetahui?..."
Zaman
sekarang itu frend, beda banget sistem pendidikannya dengan yang ada
pada zaman Rasulullah SAW or zaman-zaman sesudahnya (zaman para
kholifah-kholifah). Buktinya?. Contoh kecil yakni pada arah outputnya.
Betapa sangat sekuler (eh sebelumnya kenalin, sekuler itu artinya
'pemisahan antara agama dari kehidupan') pendidikan zaman sekarang ini.
Mulai dari materi yang disampaikan hingga thoriqohnya. Misalnya pada
materi yang berbasist akhirat hanya diberikan 2 jam saja per minggu.
Lalu sisanya?. Jelas itu adalah materi yang pada dasarnya hukum
mencarinya adalah fardhu kifayah. Belum lagi kesibukan yang amat luar
biasa dari pendidikan ini, hingga menjadikan sebagian pelajar tidak lagi
sempet menyisihkan waktu untuk mengkaji ilmu agama. Ya ngga sih frend? |
kalian ngerasa kan ?.
Padahal sudah jelas bahwa
mempelajari or mencari ilmu agama adalah fardhu 'ain hukumnya. Hal ini
seperti pada hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Bukhori, "Menuntut
ilmu adalah wajib atas setiap muslim".
Dan yang ngga
kalah pentingnya, kita bisa lihat di pendidikan zaman sekarang tidak
adanya mata pelajaran Bahasa Arab di sekolah-sekolah umum. Termasuk
sekolah kita ini kan? hehe. Padahal Bahasa Arab adalah bahasa dalam
Al-Quran dan Al-Hadits. Yang mana keduanya itu adalah sumber hukum kita
sebagau seorang muslim. Bisa kita bayangkan deh, gimana kita dapat
memahami apa yang ada pada agama kita, jika kitanya aja ngga mampu
mengerti bahasanya. Ya kan? | iya aja deh, hehe *piss. Pantas saja
sekarang banyak terdapat hadits palsu yang mungkin kita benarkan
keberadaannya.
Salah satu sebabnya mungkin karena kita
ngga mau sedikit demi sedikit mengkaji Islam (Bahasa Arab). Kalau sudah
gini jadinya, terus gimana dong tindakan kita frend? | hehe ya makanya
ayoo ngajii, jangan hanya memikirkan sekolah aja. Kan ilmu dunia dan
akhirat itu sama-sama penting dan harus balance kan? (ciee bahasanya).
Lalu
frend, coba kita lihat tujuan dari output dalam pendidikan sekuler ini,
haduh kayaknya ngga terarah gitu deh. Kita dapat mengambil contoh pada
pelaksanaan Ujian Nasional (UN). Seorang guru besar matematika di ITB,
Bapak Iwan Pranoto mengatakan bahwa UN adalah perusak budaya bernalar
paling efektif. Dengan format pilihan berganda sama sekali ngga mampu
mengukur kemampuan dan potensi akademik yang dimiliki siswa secara
holistis.
UN hanya mampu mengukur kemampuan berfikir sederhana dan
kemampuan mengingat (kaltimpos.co.id/2013). Jelas hal tersebut
sangatlah bertolak belakang dengan pendidikan yang ada pada Islam.
Dalam
Islam, tujuan utama pendidikannya adalah untuk membentuk kepribadian
pelajar agar berkepribadian Islam. Juga untuk membina mereka agar
menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta ngga lupa juga tsaqofah
Islam (pengetahuan-pengetahuan dari Islam). Yang pada intinya semua ini
dimaksudkan demi tergapainya Ridho Allah SWT. Sebenarnya dalam
pendidikan Islam tidak ada yang namanya pendidikan mahal.
Mungkin
beda ya frend sama pendidikan sekuler, hehe. Ini bisa kita flashback
pada sejarah Islam dahulu. Dulu saat Imam Syafi'i belajar ke Madinah,
Gubernur Mekah sampai rela mengantarkannya dan menjamin biaya hidupnya.
Lalu bagaimana ketika para putra-putri Raja and Kaisar Eropa kuliah di
Universitas Cordoba Andalusia dengan biaya dari pemerintah alias gratis.
Juga pada Universitas Almunta Syiria.
Dalam kutipan
sejarah tersebut seolah membuktikan kepada dunia. Bahwa pendidikan Islam
tidak melulu untuk Muslim saja, namun juga untuk semua lapisan ras,
agama dan apapun itu. Disinilah letak suatu keadilan frend, yakni
keadilan Islam untuk seluruh alam, hehe. Sekarang coba kita bandingkan,
lebih baik manakah antara output pendidikan zaman sekarang yang
cenderung sekuler ini atau pendidikan yang ada pada Islam.
Pada
zaman pendidikan sekarang itu, seolah hanya mencetak pelajar bagai
perpustakaan berjalan belaka. Dan dibentuk dan difungsikan hanya sebagai
penjawab soal-soal ujian. Maksudnya, sekarang sangat jarang ditemukan
seorang pelajar Islam yang berhasil menemukan suatu penemuan yang dimana
penemuan tersebut juga dapat mengangkat derajat Ummat Muslim. Seolah
mencerminkan kalau ummat Muslim itu lebih rendah dari orang-orang kafir
(Astaghfirullah). Padahal sudah jelas Allah SWT telah mengklaim kita
sebagai ummat terbaik, yakni pada QS. Ali-Imran : 110. "Kamu adalah
ummat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyeru kepada yang ma'ruf
dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah..."
Sungguh
jelas berbeda dengan yang ada pada output pendidikan Islam. Bisa kita
ambil contoh bagaimana ketika seorang pemuda dari Turki yang bernama
Sultan Muhammad II or Muhammad Al-Fatih (kalo ini mah abang saya hehe).
Diusianya yang belum genap 2g tahun ia sudah menguasai sekitar 7 bahasa
dunia dan mampu menjadi panglima perang pasukan pemenangan pembebasan
Turki. Lalu bagaimana Ibnu Sina yang seorang ahli sains dan pengarang
dari sekitar 450 judul buku (kalo kita, sudahkah satu buku aja?, ckckck
*terharu ). Lalu juga ada Al-Khawarizmi seorang ilmuwan matematika yang
hebat. Ada pula Ibnu Firnas, yakni penemu dari konsep pesawat terbang.
Serta masih banyak lagi ilmuwan-ilmuwan dalam Islam yang tercetak pada
penarapan sistem pendidikan Islam.
Mereka semua dapat
terbentuk semacam itu karena adanya pengkondisian yang tepat. Hal
tersebut juga dapat membuktikan bahwa Islam tak hanya melulu ilmu
akhirat, namun juga ilmu dunia. Namun yang terpenting kita harus tahu
porsi dari masing-masing ikmu tersebut. Lagi-lagi, balance itu penting .
Rasulullah SAW pun bersabda, "kalian lebih tahu urusan dunia kalian"
(HR. Muslim).
Jadi intinya kita tidak hanya dituntut
hanya mempelajari ilmu agama saja, tapi juga ilmu dunia. Karena pada
dasarnya ilmu dunia dan akhirat haruslah berjalan secara seimbang,
lagi-lagi harus 'balance' hehe. Asalkan tujuannya sama-sama untuk
mendapatkan ridho Allah SWT dan untuk menambah dari kemuliaan agama
Islam.
Tentu kita juga tahu, bagaimana dulu ada
perpustakaan terbesar yang dimiliki pemerintahan Islam. Yakni
perpustakaan Baitul Hikmah di Baghdad. Disanalah banyak pelajar Muslim
mendapatkan ilmu-ilmu, gratis lagi ngga usah pake kartu hehe.
SubhanAllah, pendidikan dalam Islam memang bener-bener sempurna.
Dan
pada akhirnya pantaslah kita mendambakan pendidikan yang semacam itu
ditengah-tengah rusaknya para remaja zaman sekarang (kalo udah nyebut
kata-kata ini miris rasanya).
*sorry kalo bahasanya seperti sedang ngomong ke anak-anak sekolahan* hehe
Tidak ada komentar:
Posting Komentar