Kamis, 05 Juni 2014

Pendidikan Mulia Dalam Islam

Assalamu'alaikum Wr Wb

Kaifa haluk temen-temen semua?. gimana kabar juga untuk UKK nya (yg masih sekolah) ?. Semoga kita senantiasa dalam naungan rahmat dan hidayahNya yaa. Aamiin.

Rasa-rasanya lama sekalii saya ngga mosting artikel, hehe. Ditulisan kali ini, saya akan sedikit membahas tentang pendidikan dalam Islam, yakni pendidikan yang sangat mulia (ngga ada yg bisa ngalahin deh). Kan itung-itung cocok banget sama moment di bulan Juni ini, hehe musim UKK gitu. Ehh, nyambung ngga sih?. Ahh ntahlah, nyambung ngga nyambung dibuat nyambung aja hehe. Oke, mari kita mulai, lets go !

Islam adalah agama yang sempurna. Islam mengatur kita dalam segala aspek kehidupan. Mulai dari makan, minum, interaksi, bisnis or dagang, sampai pemerintahan juga termasuk pendidikan.

Islam mengatur kita mulai dari kita bangun tidur hingga kita tidur lagi. Jadi intinya tidak ada satu detikpun kita ngga diatur sama Islam. Keren kan? | Pasti dong !. Sanking sempurnanya agama Islam, sampai-sampai Islam juga ngatur tentang pendidikan lhoo (tau lah, kan di atas udah disebutin, hehe). Kita bisa pahamkan, betapa pendidikan adalah sangat vital keberadaannya. Sampai-sampai Rasulullah-pun sangat memperhatikan hal ini. Misal seperti yang ada pada pembebasan tawanan perang di Perang Badar. Yakni Rasulullah menetapkan tebusan bagi tawanan Perang Badar dengan mengajar membaca 10 anak Muslim. Lalu kita juga bisa bandingkan, gimana tingkah laku seorang yang berpendidikan dan ngga berpendidikan.
 Pasti beda banget kan?. Ini sejalan dengan Firman Allah SWT dalam QS. Az-Zumar : 9, yang artinya "...Adakah sama antara orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?..."

Zaman sekarang itu frend, beda banget sistem pendidikannya dengan yang ada pada zaman Rasulullah SAW or zaman-zaman sesudahnya (zaman para kholifah-kholifah). Buktinya?. Contoh kecil yakni pada arah outputnya. Betapa sangat sekuler (eh sebelumnya kenalin, sekuler itu artinya 'pemisahan antara agama dari kehidupan') pendidikan zaman sekarang ini. Mulai dari materi yang disampaikan hingga thoriqohnya. Misalnya pada materi yang berbasist akhirat hanya diberikan 2 jam saja per minggu. Lalu sisanya?. Jelas itu adalah materi yang pada dasarnya hukum mencarinya adalah fardhu kifayah. Belum lagi kesibukan yang amat luar biasa dari pendidikan ini, hingga menjadikan sebagian pelajar tidak lagi sempet menyisihkan waktu untuk mengkaji ilmu agama. Ya ngga sih frend? | kalian ngerasa kan ?.

Padahal sudah jelas bahwa mempelajari or mencari ilmu agama adalah fardhu 'ain hukumnya. Hal ini seperti pada hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Bukhori, "Menuntut ilmu adalah wajib atas setiap muslim".

Dan yang ngga kalah pentingnya, kita bisa lihat di pendidikan zaman sekarang tidak adanya mata pelajaran Bahasa Arab di sekolah-sekolah umum. Termasuk sekolah kita ini kan? hehe. Padahal Bahasa Arab adalah bahasa dalam Al-Quran dan Al-Hadits. Yang mana keduanya itu adalah sumber hukum kita sebagau seorang muslim. Bisa kita bayangkan deh, gimana kita dapat memahami apa yang ada pada agama kita, jika kitanya aja ngga mampu mengerti bahasanya. Ya kan? | iya aja deh, hehe *piss. Pantas saja sekarang banyak terdapat hadits palsu yang mungkin kita benarkan keberadaannya.

Salah satu sebabnya mungkin karena kita ngga mau sedikit demi sedikit mengkaji Islam (Bahasa Arab). Kalau sudah gini jadinya, terus gimana dong tindakan kita frend? | hehe ya makanya ayoo ngajii, jangan hanya memikirkan sekolah aja. Kan ilmu dunia dan akhirat itu sama-sama penting dan harus balance kan? (ciee bahasanya).

Lalu frend, coba kita lihat tujuan dari output dalam pendidikan sekuler ini, haduh kayaknya ngga terarah gitu deh. Kita dapat mengambil contoh pada pelaksanaan Ujian Nasional (UN). Seorang guru besar matematika di ITB, Bapak Iwan Pranoto mengatakan bahwa UN adalah perusak budaya bernalar paling efektif. Dengan format pilihan berganda sama sekali ngga mampu mengukur kemampuan dan potensi akademik yang dimiliki siswa secara holistis.
UN hanya mampu mengukur kemampuan berfikir sederhana dan kemampuan mengingat (kaltimpos.co.id/2013). Jelas hal tersebut sangatlah bertolak belakang dengan pendidikan yang ada pada Islam.

Dalam Islam, tujuan utama pendidikannya adalah untuk membentuk kepribadian pelajar agar berkepribadian Islam. Juga untuk membina mereka agar menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta ngga lupa juga tsaqofah Islam (pengetahuan-pengetahuan dari Islam). Yang pada intinya semua ini dimaksudkan demi tergapainya Ridho Allah SWT. Sebenarnya dalam pendidikan Islam tidak ada yang namanya pendidikan mahal.

Mungkin beda ya frend sama pendidikan sekuler, hehe. Ini bisa kita flashback pada sejarah Islam dahulu. Dulu saat Imam Syafi'i belajar ke Madinah, Gubernur Mekah sampai rela mengantarkannya dan menjamin biaya hidupnya. Lalu bagaimana ketika para putra-putri Raja and Kaisar Eropa kuliah di Universitas Cordoba Andalusia dengan biaya dari pemerintah alias gratis. Juga pada Universitas Almunta Syiria.

Dalam kutipan sejarah tersebut seolah membuktikan kepada dunia. Bahwa pendidikan Islam tidak melulu untuk Muslim saja, namun juga untuk semua lapisan ras, agama dan apapun itu. Disinilah letak suatu keadilan frend, yakni keadilan Islam untuk seluruh alam, hehe. Sekarang coba kita bandingkan, lebih baik manakah antara output pendidikan zaman sekarang yang cenderung sekuler ini atau pendidikan yang ada pada Islam.

Pada zaman pendidikan sekarang itu, seolah hanya mencetak pelajar bagai perpustakaan berjalan belaka. Dan dibentuk dan difungsikan hanya sebagai penjawab soal-soal ujian. Maksudnya, sekarang sangat jarang ditemukan seorang pelajar Islam yang berhasil menemukan suatu penemuan yang dimana penemuan tersebut juga dapat mengangkat derajat Ummat Muslim. Seolah mencerminkan kalau ummat Muslim itu lebih rendah dari orang-orang kafir (Astaghfirullah). Padahal sudah jelas Allah SWT telah mengklaim kita sebagai ummat terbaik, yakni pada QS. Ali-Imran : 110. "Kamu adalah ummat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyeru kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah..."

Sungguh jelas berbeda dengan yang ada pada output pendidikan Islam. Bisa kita ambil contoh bagaimana ketika seorang pemuda dari Turki yang bernama Sultan Muhammad II or Muhammad Al-Fatih (kalo ini mah abang saya hehe). Diusianya yang belum genap 2g tahun ia sudah menguasai sekitar 7 bahasa dunia dan mampu menjadi panglima perang pasukan pemenangan pembebasan Turki. Lalu bagaimana Ibnu Sina yang seorang ahli sains dan pengarang dari sekitar 450 judul buku (kalo kita, sudahkah satu buku aja?, ckckck *terharu ). Lalu juga ada Al-Khawarizmi seorang ilmuwan matematika yang hebat. Ada pula Ibnu Firnas, yakni penemu dari konsep pesawat terbang. Serta masih banyak lagi ilmuwan-ilmuwan dalam Islam yang tercetak pada penarapan sistem pendidikan Islam.

Mereka semua dapat terbentuk semacam itu karena adanya pengkondisian yang tepat. Hal tersebut juga dapat membuktikan bahwa Islam tak hanya melulu ilmu akhirat, namun juga ilmu dunia. Namun yang terpenting kita harus tahu porsi dari masing-masing ikmu tersebut. Lagi-lagi, balance itu penting . Rasulullah SAW pun bersabda, "kalian lebih tahu urusan dunia kalian" (HR. Muslim).

Jadi intinya kita tidak hanya dituntut hanya mempelajari ilmu agama saja, tapi juga ilmu dunia. Karena pada dasarnya ilmu dunia dan akhirat haruslah berjalan secara seimbang, lagi-lagi harus 'balance' hehe. Asalkan tujuannya sama-sama untuk mendapatkan ridho Allah SWT dan untuk menambah dari kemuliaan agama Islam.

Tentu kita juga tahu, bagaimana dulu ada perpustakaan terbesar yang dimiliki pemerintahan Islam. Yakni perpustakaan Baitul Hikmah di Baghdad. Disanalah banyak pelajar Muslim mendapatkan ilmu-ilmu, gratis lagi ngga usah pake kartu hehe. SubhanAllah, pendidikan dalam Islam memang bener-bener sempurna.

Dan pada akhirnya pantaslah kita mendambakan pendidikan yang semacam itu ditengah-tengah rusaknya para remaja zaman sekarang (kalo udah nyebut kata-kata ini miris rasanya).


*sorry kalo bahasanya seperti sedang ngomong ke anak-anak sekolahan* hehe

Tidak ada komentar: