Assalamualaikum wr.wb
teman-teman yang Insya Allah dirahmati Allah, apa kabarnya nih yang habis
menerima raport sisipan UTS ?. Pasti ada yang seneng dan ada pula yang senep ya
?, hehe. Sebenarnya mau nilai jelek atau bagus
, kalau itu adalah hasil nilai kita sendiri alias tidak dapat dari
nyontek, kita ya harus tetep seneng dong ? kenapa ?, karena dari situ kita
dapat benar-benar mengukur kepandaian kita. Jika dirasa kita masi dalam taraf
kepandaian yang biasa-biasa saja, otomatis kita akan tau tentang bagaimana
langkah kita kedepannya, untuk agar kita bisa menjadi lebih baik dari
sebelumnya. Nah beda lagi jika kita mendapatkan hasil raport yang bagus namun
itu dapat dari sebuah proses yang curang dan bodoh ; nyontek. Pasti kita bakal
merasa cepat puas dan cenderung menjadi siswa yang gak mau berubah menjadi
lebih baik lagi, alias ”njagakno kancane tok”.
Teman-teman yang Insya
Allah dirahmati Allah, kalian tau gak sih ? apa itu “pelajar yang sesunggguhnya
?”. pelajar yang sesungguhnya ya pelajar yang make seragam saat ke sekolah
dong!. Heheh, enggak dinkkk, ini mah becanda saja. Jadi, pelajar yang sesungguhnya
adalah dia yang benar-benar mempraktekkan definisi pelajar itu sendiri (KBBI :
Pelajar = orang yang belajar). Namun
belajar yang dimasud disini bukanlah hanya belajar ilmu dunia semata, melainkan
juga belajar ilmu untuk akhirat. Karena
perlu diketahui orang cerdas dan pandai adalah orang-orang yang benar-benar
memikirkan akan kehidupannya dimasa depan, yakni masa depan yang sementara ; di
dunia dan masa depan yang kekal ; di akhirat.
Seiring berjalannya
waktu, seorang pelajar tidak lagi dapat dikatakan pelajar. Karena dengan status
tersebut, meraka justru tidak mempraktikan definisi pelajar itu sendiri. Namun
mereka malah cenderung sekedar hura-hura dan ngeceng saja saat di sekolah. Nah saat
seperti itu, guru tidak lagi dijadikan sebagai ladang ilmu, melainkan hanya
sebatas pameran di depan kelas saja.
Lalu ada pula pelajar
yang mempraktekkan dari definisi pelajar tadi, namun mirisnya mereka hanya
belajar sebatas ilmu dunia saja. Ilmu akhirat benar-benar mereka tinggalkan.
Teman-teman apakah kita termasuk dalam golongan pelajar yang semacam itu ? jika
iya, maka kita benar-benar dalam cengkraman tipu setan laknatullah.
Naudzubillah.. sungguh, jika sudah seperti itu , kita harus cepat-cepat berbenah
diri, biar kita gak semakin menjadi orang yang
merugi.
Coba kita fikir bersama, apa sih arti kepandaian ilmu dunia dan kepandaian ilmu akhirat bagi kita ini ?. teman-teman, percayalah ilmu untuk dunia itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan ilmu untuk akhirat. Jika kita pandai ilmu dunia, palingan ilmu tersebut bermanfaat cuman kira-kira 60 tahunan saja, soalnya kita hidup di dunia ini paling banter ya cuman 60-70 tahunan. Itu aja kalau iya, nah kalau tidak ?. Siapa tahu nanti ketika kita mendapati usia 17 atau 19 tahun, disitulah kita bakal di baringkan di keranda hijau. Astaghfirullah.. Nah, coba deh lihat hadits ini :
“Tidaklah (bernilai) dunia (jika) dibandingkan akhirat,
melaimkan hanyalah seperti salah seorang dari kalian yang memasukkan jari
telunjuk ke dalam lautan, kemudian lihatlah berapa air yang terbawa?” (HR.
Ahmad)
Subhanallah, itulah kehidupan dunia.
Sungguh hanya setetes saja jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat yang
seluas samudra lautan. Sedikit banget kan ? iya dong !. Orang 60 tahun
dibandingin dengan selama-lamanya (bermiliar juta triliun triliun triliun
miliar) kok.
Nah kalau sudah seperti
itu, maka jelas pandai ilmu dunia jika tidak dibarengi dengan pandai ilmu
akhirat maka sama saja dengan tidak ada gunanya. Jadi marilah mulai sekarang
kita bergegas untuk mencari iklmu dunia pun juga ilmu akhirat. Biar kita bisa
sukses dunia juga akhirat. Marilah selalu menyangkutkan segala aktivitas kita
untuk mencari ilmu dunia ini dengan ilmu akhirat (di aplikasikan). Biar dunia kita oke, akhirat juga oke ! J.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar